Jumat 03 Jul 2026 14:01 WIB

Jaga Ukhuwah, PP PERSIS Ajak Warga Jam’iyyah Bentengi Diri dari Provokasi Medsos

Warga PERSIS diminta selalu mengedepankan prinsip tabayyun.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi PP PERSIS, Ihsan Setiadi Latief.
Foto: Foto istimewa Persis
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi PP PERSIS, Ihsan Setiadi Latief.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Riuh rendahnya jagat digital hari ini menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dari seluruh warga Jam’iyyah. 

Menanggapi maraknya akun-akun liar yang mencatut nama dan atribut organisasi untuk memecah belah umat, Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) mengimbau seluruh kader dan simpatisan lebih selektif dan menyaring setiap informasi yang beredar.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dr H Ihsan Setiadi Latief M.Si menyoroti kebebasan berekspresi di media sosial yang kerap kebablasan. Menurutnya, era digital saat ini sering menjebak netizen pada budaya mengejar viralitas, hingga mengorbankan validitas dan nilai-nilai kebenaran.

Saat ini, siapa saja bisa membuat akun atau konten demi mengejar engagement. Dampaknya, batasan antara kebenaran dan hoaks menjadi makin kabur. 

‘’Kita harus waspada terhadap akun-akun yang menggunakan identitas PERSIS, namun narasinya justru bernada provokatif, mengadu domba antar-ormas, ormas-pemerintah atau mendiskreditkan pihak lain," ujar Ihsan dikutip Jumat (3/7/2026). 

Strategi Literasi Digital Organisasi

Menyikapi tantangan ini, PP PERSIS melalui Bidang Informasi  dan Komunikasi (Bidang Infokom) terus memperkuat koordinasi dengan berbagai penyedia platform digital guna meminimalisasi ruang gerak akun-akun palsu tersebut. 

Kendati demikian, pihak Jam'iyyah mengakui bahwa pembersihan akun fake atau bodong tidak bisa instan karena terbentur regulasi global masing-masing platform.

Sebagai langkah taktis, PP PERSIS mendorong penguatan ekosistem digital dari internal organisasi. Langkah-langkah yang ditekankan antara lain:

1.Amplifikasi Akun Resmi: Membanjiri ruang digital dengan konten yang bersumber langsung dari portal resmi serta media jejaring Jam'iyyah.

2.Aktivasi Media Wilayah dan Daerah: Menginstruksikan Pimpinan Wilayah (PW), Pimpinan Daerah (PD), Pimpinan Cabang untuk mengelola media sosial secara profesional dan searah dengan garis kebijakan pusat.

3.Edukasi Big Data dan AI: Memperbanyak khazanah literasi digital PERSIS yang kredibel agar algoritma kecerdasan buatan (AI) dapat menangkap referensi yang sahih mengenai pemikiran dan kontribusi PERSIS bagi bangsa.

Budaya Tabayyun di Era Digital

Di akhir arahannya, Ihsan mengingatkan, medsos bukan sekadar tempat mencari hiburan atau popularitas sesaat, melainkan medan dakwah untuk membangun peradaban yang damai. 

Ia meminta warga PERSIS untuk selalu mengedepankan prinsip tabayyun (konfirmasi) sebelum membagikan ulang sebuah berita.

"Jangan mudah terprovokasi. Jika ada informasi yang meragukan atau berpotensi memicu kegaduhan atas nama Jam’iyyah, segera lakukan cross-check ke saluran komunikasi resmi kita. Mari kita penuhi ruang digital dengan narasi dakwah yang menyejukkan dan ilmiah," pungkasnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi