Kamis 02 Jul 2026 15:19 WIB

Pakar ITB Ingatkan AI Masih Bisa Salah, Jangan Dijadikan Acuan Utama

Kemampuan AI terus berkembang, tetapi pengguna tetap harus kritis.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Ani Nursalikah
Ilustrasi kecerdasan buatan atau akal imitasi.
Foto: tangkapan layar
Ilustrasi kecerdasan buatan atau akal imitasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghasilkan teks, gambar, hingga video yang menyerupai karya manusia diperkirakan akan semakin sulit dibedakan di masa depan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dan tetap bersikap kritis terhadap setiap informasi yang dihasilkannya.

Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, menyampaikan  ke depannya akan semakin sulit membedakan hasil karya AI dan bukan AI secara kasatmata.

Baca Juga

"Tapi kalau sekarang, kalau kita sering menggunakan sebuah AI tool, biasanya kita semakin familiar dengan ciri-ciri output dari AI tool tersebut," kata Ayu kepada Republika, Selasa (30/6/2026).

Ayu mengatakan, cara kerja AI Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan lain-lain disebut sebagai next token prediction, yaitu setiap kata di-generate berdasarkan nilai probabilitas. Karena itu, ada yang menyebutnya sebagai stochastic parrot, seperti burung beo yang dapat menjawab karena latihan.

"Seperti burung beo diajari menjawab waalaikumsalam jika ada yang mengucapkan assalamualaikum, padahal burung beo tidak paham bahwa yang diucapkan tadi adalah salam yang berpahala," ujar Ayu.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi