REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghasilkan teks, gambar, hingga video yang menyerupai karya manusia diperkirakan akan semakin sulit dibedakan di masa depan. Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dan tetap bersikap kritis terhadap setiap informasi yang dihasilkannya.
Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, menyampaikan ke depannya akan semakin sulit membedakan hasil karya AI dan bukan AI secara kasatmata.
"Tapi kalau sekarang, kalau kita sering menggunakan sebuah AI tool, biasanya kita semakin familiar dengan ciri-ciri output dari AI tool tersebut," kata Ayu kepada Republika, Selasa (30/6/2026).
Ayu mengatakan, cara kerja AI Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan lain-lain disebut sebagai next token prediction, yaitu setiap kata di-generate berdasarkan nilai probabilitas. Karena itu, ada yang menyebutnya sebagai stochastic parrot, seperti burung beo yang dapat menjawab karena latihan.
"Seperti burung beo diajari menjawab waalaikumsalam jika ada yang mengucapkan assalamualaikum, padahal burung beo tidak paham bahwa yang diucapkan tadi adalah salam yang berpahala," ujar Ayu.
Lihat postingan ini di Instagram