Kamis 25 Jun 2026 17:51 WIB

Kisah Mutiara dan Agung, Pasangan Haji Muda yang Menemukan Hikmah dalam Kebersamaan

Haji menjadi ruang refleksi untuk membangun hubungan rumah tangga yang lebih baik.

Jamaah haji dari Jakarta kloter JKS 25, Mutiara Daru Nur Islam (tengah) bersama suami (kanan) saat ditemui Republika di Madinah, Arab Saudi, Kamis (25/6/2026). Keduanya mengungkapkan keuntungan bisa berhaji di usia yang relatif muda.
Foto: Republika/Fernan Rahadi
Jamaah haji dari Jakarta kloter JKS 25, Mutiara Daru Nur Islam (tengah) bersama suami (kanan) saat ditemui Republika di Madinah, Arab Saudi, Kamis (25/6/2026). Keduanya mengungkapkan keuntungan bisa berhaji di usia yang relatif muda.

Oleh: Jurnalis Republika, Fernan Rahadi dari Madinah, Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Bagi Mutiara Daru Nur Islam (42 tahun), terdapat banyak keuntungan bisa berhaji di usia yang relatif muda. Beberapa di antaranya adalah kelebihan secara fisik dan pengetahuan (knowledge).

Menurut Mutiara, informasi tentang apa yang harus dilakukan sebelum haji sudah banyak tersebar di media sosial. Hal tersebut sedikit banyak membantunya dan sang suami, Agung Azan Nugroho (42), dalam mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis dan nonteknis sebelum berhaji.

Baca Juga

"Apalagi kami jamaah haji reguler yang berangkat bersama para senior," ujar Mutiara saat ditemui di Arjwan Al Saada Hotel, Madinah, beberapa waktu lalu.

Terbukti, ketika di lapangan Mutiara mendapati sejumlah jamaah haji yang lebih tua dari mereka tidak mempersiapkan beberapa hal seperti yang dirinya dan sang suami lakukan. Salah satu contohnya adalah membawa kantong urine yang sangat berguna saat fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Sama seperti Mutiara, Agung pun merasakan keuntungan serupa berangkat sebagai pasangan muda. Sebagai ketua regu di rombongannya yang tergabung dalam Kloter JKS 25 asal DKI Jakarta, ia bisa menjadikan Mutiara sebagai mitra yang banyak memberikan bantuan kepadanya. Apalagi mayoritas jamaah dalam regunya berusia di atas 60 tahun.

"Misalnya masalah logistik. Jika kami berdua yang mengurus itu, jadi lebih cepat. Beda dengan jamaah yang sudah sepuh, misalnya," ujar pria yang sehari-hari bekerja di SKK Migas tersebut.

Hal tersebut dirasa paling banyak membantunya saat Armuzna, ketika banyak jamaah di rombongannya memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda.

"Saat itu kami bisa tektokan dengan cepat sehingga bisa membantu menjaga teman-teman jamaah," ujar Agung.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi