REPUBLIKA.CO.ID,BEIRUT – Seorang sumber keamanan dan politik regional mengungkapkan, pernyataan beruntun yang dilontarkan para pejabat Israel belakangan ini merefleksikan kegagalan politik dan militer serta ketegangan internal yang hebat.
Sumber tersebut menyatakan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini tidak memiliki pilihan lain selain menerima gencatan senjata yang ditetapkan di bawah nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
"Suka atau tidak suka, Netanyahu terpaksa menerima gencatan senjata berdasarkan nota kesepahaman tersebut," ujar sumber tersebut kepada jaringan berita Lebanon, Al Mayadeen.
Ia menambahkan, berkaca pada pengalaman sebelumnya, retorika garis keras yang kian gencar digaungkan Netanyahu justru mengindikasikan bahwa ia sedang mempersiapkan fase politik baru, alih-alih menolak kesepakatan tersebut.
"Pengalaman kami menghadapi entitas Zionis sejak awal menunjukkan bahwa ketika Netanyahu mengambil posisi yang berlebihan, itu berarti ia sedang bersiap untuk tahap berikutnya,"jelas sumber tersebut.
Lebih lanjut, ia menegaskan kekuatan kelompok perlawanan dalam mendikte situasi di lapangan. "Pihak perlawanan berhasil memaksakan gencatan senjata ini, dan akan terus melanjutkan perjuangannya hingga penjajah terusir dari titik terakhir,"kata dia.
Sumber itu juga membocorkan draf awal mengenai jadwal penarikan mundur pasukan militer Netanyahu telah disiapkan dan kini sedang dalam tahap kajian serta peninjauan. Langkah ini merupakan bagian dari pengaturan untuk menerapkan klausul pertama dalam nota kesepahaman tersebut.