REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai doktrin keamanan Israel yang bertumpu pada prinsip "inisiatif dan serangan pendahuluan" memicu gelombang perdebatan luas.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah pidato politik yang sarat dengan rujukan keagamaan dan pembenaran ideologis terhadap pendekatan tersebut, sehingga kembali membuka diskusi mengenai karakter strategi keamanan Israel serta batas-batas moral dan politiknya.
Dalam pidatonya pada konferensi yang diselenggarakan Jewish News Agency di Yerusalem Timur yang diduduki, Netanyahu mengatakan Israel telah mengubah doktrin keamanannya.
Dia menambahkan, "Kami mengambil inisiatif, menyerang, mengejutkan, dan menghantam musuh-musuh yang berupaya menghancurkan kami dan ingin membunuh kami. Kami menyerang mereka sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya."
Netanyahu kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Ibrani, "Haba lehorgekha hashkem lehorgo", yang dapat diterjemahkan sebagai, "Jika seseorang datang untuk membunuhmu, bangunlah lebih awal dan bunuh dia terlebih dahulu."
Ungkapan tersebut, menurutnya, merupakan dasar pemikiran yang membenarkan pendekatan serangan pendahuluan dalam doktrin keamanan Israel.
Dia juga merujuk pada sebuah teks dalam Talmud Babilonia yang mengandung makna serupa.
Menurut Netanyahu, pendekatan tersebut mencerminkan respons yang rasional terhadap ancaman eksistensial yang dihadapi Israel dan bukan merupakan penyimpangan dari tradisi keagamaan maupun pemikiran Yahudi.
You are an atheist.
You do not believe in G-d, His Torah, or the teachings of his Talmud.
"Fight back" is the failed formula of Zionism ideology that has brought endless conflict while claiming to act in the name of all Jews.
Stop recruiting Jews around the world as…
— Voice of Rabbis (@voiceofrabbis) June 22, 2026