REPUBLIKA.CO.ID, ROMA— Beberapa menit setelah mencetak gol pertamanya di Piala Dunia pada Ahad lalu, pemain tim nasional Spanyol, Lamine Yamal, menjadi sasaran gelombang serangan di media sosial.
Hal itu terjadi setelah dia melakukan sujud syukur sebagai bentuk perayaan gol yang dicetaknya ke gawang Arab Saudi.
Aksi tersebut memicu kemarahan sejumlah akun sayap kanan di Spanyol dan Eropa. Mereka tidak melihatnya sekadar sebagai selebrasi biasa, melainkan menuduhnya sebagai bentuk "Islamisasi" tim nasional Spanyol dan bukti dari apa yang mereka sebut sebagai "penggantian demografis", sebuah narasi yang kerap digunakan kelompok ekstrem kanan.
Serangan itu tidak hanya berupa kritik terhadap cara Yamal merayakan gol, tetapi juga disertai upaya mempertanyakan kelayakannya membela Spanyol.
Mereka mengungkit asal-usul Maroko dan identitas keislamannya dalam narasi bernuansa rasial yang menjadikan Yamal simbol imigran dan Muslim di Eropa.
Unit Sumber Terbuka (Open Source Unit) Aljazeera, dikutip Senin (23/6/2026), menelusuri sejumlah unggahan di platform X dan menganalisis akun-akun yang memimpin kampanye tersebut, serta bagaimana serangan yang bermula dari Spanyol itu meluas ke berbagai negara melalui jaringan akun yang memiliki kesamaan ideologi.
Analisis terhadap percakapan mengenai nama Yamal di platform X menunjukkan bahwa serangan terhadapnya sebenarnya sudah dimulai beberapa jam sebelum pertandingan.
“Lamine Yamal is still only 18 but he is no longer the same bright-eyed boy who lit up the 2024 Euros,” writes @SamJDean.
“In the two years since, that boyish charm has been replaced by a strong-voiced, politically aware, heavily commercialised and occasionally controversial… pic.twitter.com/NtObg13sjk
— Telegraph Football (@TeleFootball) June 21, 2026