REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Institut Bait Suci Yahudi mengumumkan kelahiran seekor sapi merah yang diklaim memenuhi kriteria yang disebutkan dalam Taurat untuk pelaksanaan ritual "penyucian".
Sapi tersebut lahir di salah satu peternakan sapi perah di wilayah Galilea, Israel utara.
Abdullah Ma'ruf, Direktur Pusat Studi Yerusalem di Universitas Istanbul 29 Mei dan mantan Kepala Hubungan Media dan Humas Masjid Al-Aqsa, menjelaskan Institut Bait Suci membuka pengumumannya dengan menyebut kelahiran sapi itu di tengah perang di wilayah utara—yakni konflik dengan Lebanon—sebagai sebuah "tanda ilahi".
Menurutnya, dalam keyakinan yang bersumber dari tradisi Taurat, sapi merah dianggap harus hadir sebagai "mukjizat ilahi" tanpa campur tangan manusia dalam menentukan warna bulunya.
Dilaporkan Aljazeera, Kamis (18/6/2016), dalam unggahannya di platform X, pakar urusan Yerusalem itu menyebut bahwa sapi yang baru lahir tersebut dipandang berbeda dari lima sapi merah yang sebelumnya didatangkan dari negara bagian Texas, Amerika Serikat.
Pasalnya, sapi baru ini lahir di Palestina yang diduduki, sehingga mengatasi keberatan sejumlah rabi terhadap sapi-sapi dari Texas yang dianggap tidak memenuhi syarat karena lahir di luar "Tanah Israel" menurut pengertian Taurat.
Keberatan tersebut sebelumnya dinilai menghalangi terpenuhinya syarat-syarat ritual penyucian yang, menurut sebagian kalangan Yahudi, menjadi prasyarat sebelum memasuki kawasan Masjid Al-Aqsa.