Jumat 12 Jun 2026 08:51 WIB

LPPOM MUI Sharing Pengalaman Uji Kandungan Babi di Kongres Halal Eropa 2026

Uji lab berperan mendeteksi adanya kontaminasi bahan non halal dalam produksi.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Uji Coba Laboratorium LPPOM MUI (ilustrasi)
Foto: republika
Uji Coba Laboratorium LPPOM MUI (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SARAJEVO — Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) membagikan pengalaman Indonesia dalam pengujian kandungan babi (porcine) dan penerapan sertifikasi halal berbasis sains pada ajang "4th European Halal Congress 2026" yang digelar di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, pada 9-10 Juni 2026.

Melalui forum internasional tersebut, LPPOM menegaskan pentingnya sinergi antara pengujian laboratorium, audit halal, serta sistem ketertelusuran (traceability) untuk menjaga integritas produk halal di sepanjang rantai pasok.

Baca Juga

Kongres yang mempertemukan akademisi, regulator, laboratorium pengujian, lembaga sertifikasi halal, serta pelaku industri dari berbagai negara itu menghadirkan sekitar 40 presentasi yang terbagi dalam 11 sesi dan diskusi panel. Sebanyak 30 pembicara dari 20 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis, hadir untuk berbagi inovasi dan pengalaman di bidang halal. 

Direktur The Agency for Halal Quality Certification in Bosnia and Herzegovina sekaligus Ketua Kongres, Dr Damir Alihodžić, mengatakan forum tersebut bertujuan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan industri halal guna memperkuat kolaborasi dan mendorong perkembangan sektor halal secara global.

"Kami ingin menghubungkan komunitas akademik, produsen, dan badan sertifikasi halal agar bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan sektor halal di Bosnia dan Herzegovina maupun Eropa. Kami juga merasa terhormat dapat menghadirkan LPPOM untuk berbagi pengalaman panjang Indonesia selama 37 tahun dalam penyelenggaraan sertifikasi halal," ujar Damir dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Dalam forum tersebut, VP Corporate Secretary LPPOM sekaligus peneliti Laboratorium LPPOM, Raafqi Ranasasmita, membawakan presentasi berjudul Analytical Strategies for Porcine Detection in Halal Certification.

Raafqi menjelaskan, semakin pesatnya perkembangan industri halal global dan kompleksitas rantai pasok internasional membuat kebutuhan akan metode pengujian yang akurat dan andal menjadi semakin penting. Menurut dia, pengujian laboratorium berperan dalam mendeteksi potensi pemalsuan maupun kontaminasi bahan nonhalal yang dapat terjadi pada berbagai tahapan produksi.

"Tidak ada satu metode pengujian yang paling ideal untuk seluruh kondisi. Pemilihan metode harus mempertimbangkan karakteristik produk, tingkat pengolahan, tujuan pengujian, kemampuan laboratorium, biaya, serta urgensi pengambilan keputusan,"kata Raafqi.

photo
Petugas laboratorium Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh memeriksa produk kosmetik dan benda berbahan kulit di Aceh Besar, Aceh, Kamis (30/11/2023). MPU Aceh memberikan layanan gratis kepada pengusaha industri, UKM dan UMKM untuk mengurus sertifikasi halal sebagai upaya perlindungan usaha serta kepastian produk halal dikonsumsi oleh masyarakat. - (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi