REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) mengajak masyarakat memanfaatkan fenomena astronomi saat posisi matahari berada tepat di atas Ka'bah pada 15-16 Juli 2026 untuk mengoreksi dan memastikan kembali akurasi arah kiblat. Momentum tersebut akan dimanfaatkan melalui Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Qiblat.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan fenomena tersebut menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan rashdul kiblat dengan cara yang mudah.
"Posisi matahari berada tepat di atas Ka'bah. Ini kesempatan bagi umat Islam, terutama di rumah, mungkin juga di hotel-hotel atau di restoran. Kalau masjid dan mushala pasti harus mengikuti ini," ujar Abu Rokhmad dalam acara Bimas Talks di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurut Abu, masih banyak masyarakat yang menentukan arah sholat hanya dengan menghadap ke barat tanpa memastikan posisi kiblat yang sebenarnya.
Padahal, fenomena tahunan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sekaligus verifikasi arah kiblat.
"Sebab apa? Kita kadang-kadang suka naruh sajadah itu asal make sense, menghadap ke barat. Bukan ke kiblat, ke barat, yang penting menghadap ke Barat," ucapnya.
Melalui Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Qiblat, Kemenag menargetkan keterlibatan 1.448.000 titik yang terdiri atas masjid, mushala, hotel, restoran, hingga rumah warga. Jumlah tersebut dipilih untuk menyesuaikan dengan tahun baru Hijriyah 1448 H.
"Nah, target kami ada 1.448.000 masjid, musala, hotel, restoran, dan rumah-rumah untuk melakukan gerakan bersama ini, gerakan nasional. Jadi mengapa 1.448.000? Sesuai dengan tahun Hijriyah kita," kata Abu.
Dia berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk memastikan kembali arah kiblat di lingkungan masing-masing agar pelaksanaan ibadah menjadi lebih akurat.
"Nanti semua teman-teman juga harus ikut ya, terutama yang di rumah-rumah itu kadang-kadang suka meleset-meleset arah kiblatnya," jelasnya.