Kamis 11 Jun 2026 11:11 WIB

Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam Satu Suro adalah Takhayul yang Bertentangan dengan Islam?

Datangnya malam 1 Suro kerap diiringi oleh berbagai mitos dan pantangan.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Warga mengikuti tradisi mubeng beteng di Keraton Yogyakarta, Kamis (20/7/2023) dini hari. Tradisi mubeng beteng Keraton Yogyakarta kembali diadakan usai vakum selama tiga tahun imbas pandemi covid 19. Ribuan warga mengikuti tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng setiap malam 1 Suro sebagai bentuk instrospeksi diri. Selama mubeng beteng peserta tidak boleh berbicara satu sama lain.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Warga mengikuti tradisi mubeng beteng di Keraton Yogyakarta, Kamis (20/7/2023) dini hari. Tradisi mubeng beteng Keraton Yogyakarta kembali diadakan usai vakum selama tiga tahun imbas pandemi covid 19. Ribuan warga mengikuti tradisi Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng setiap malam 1 Suro sebagai bentuk instrospeksi diri. Selama mubeng beteng peserta tidak boleh berbicara satu sama lain.

REPUBLIKA.CO.ID, Muharram merupakan salah satu bulan paling mulia dalam Islam dan menjadi awal tahun Hijriah. Bulan Muharram jadi bulan pertama dan istimewa dalam kalender Islam, sementara dalam budaya Jawa bulan pertamanya disebut Suro, 1 Muharram dan 1 Suro jatuh pada hari yang sama.

Di Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa, datangnya malam 1 Suro kerap diiringi berbagai mitos dan pantangan yang dipercaya sebagian masyarakat. Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk mengisi Muharram dengan ibadah dan menjauhi keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat.

Baca Juga

Sebagai salah satu bulan haram, Muharram mengandung keutamaan besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhul Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (QS At-Taubah Ayat 36)

Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan menjauhi kezaliman dan memperbanyak ibadah serta amal kebaikan. Salah satu kebaikan dalam bulan ini ialah terdapat Hari Asyura (10 Muharram) dan Tasu'a (9 Muharram) yang memiliki keistimewaan tersendiri, demikian dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

 

photo
Warga membawa obor saat mengikuti pawai menyambut Tahun Baru Islam di kawasan Jalan Merdeka, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (26/6/2025). Pawai obor tersebut untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. - (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Berita Lainnya

Rekomendasi