REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Serangan udara armada pesawat tempur Amerika Serikat (AS) dilaporkan mendapat pukulan dari Unit pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Kantor berita semi militer Tasnim melaporkan, IRGC berhasil memaksa jet tempur F-16 milik Amerika Serikat (AS) yang mencoba melakukan intrusi untuk mundur dari wilayah udara mereka.
"Setelah jet tempur F-16 musuh melanggar wilayah udara Teluk Persia, sistem pertahanan udara IRGC langsung melepaskan tembakan rudal ke arahnya. Jet tempur agresor tersebut kemudian segera melarikan diri dari lokasi kejadian," demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh kantor humas IRGC pada Kamis (11/6) pagi.
Insiden ini terjadi tak lama setelah pihak militer AS mengumumkan dimulainya gelombang agresi baru terhadap wilayah Iran.
Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, dalam gelombang serangan terbaru yang dilancarkan oleh militer AS ke Iran tersebut, sejumlah titik di kawasan pesisir selatan negara itu menjadi target sasaran serangan udara pesawat-pesawat tempur Amerika.
Angkatan Bersenjata Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan menggempur sejumlah pangkalan serta fasilitas militer milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Serangan masif ini diluncurkan sebagai aksi balasan atas agresi yang dilakukan militer AS terhadap wilayah Iran sebelumnya.
"Melalui dua gelombang operasi pertahanan, para prajurit tangguh dari Pasukan Dirgantara dan Angkatan Laut IRGC pada Kamis pagi ini telah menghantam dan menghancurkan 18 target penting milik militer AS di pangkalan udara Ali Al Salem, Ahmad al-Jaber, serta pangkalan udara Sheikh Isa," demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis oleh IRGC pada Kamis (11/6/2026) seperti dikutip dari Tasnim.
IRGC menambahkan, serangan tersebut merupakan bentuk hukuman bagi agresor, sekaligus respons langsung atas serangan militer AS yang dinilai tidak pandang bulu terhadap sejumlah unit layanan IRGC, pos penjagaan pantai, komando kepolisian, hingga kawasan Bandara Bandar Abbas.