REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berujung pada kenaikan harga berbagai barang dinilai sebagai bentuk inflasi yang terjadi di luar kendali pelaku ekonomi dalam negeri.
Pengamat Ekonomi Syariah dari IPB University, Irfan Syauqi Beik, menyebut fenomena tersebut sebagai involuntary inflation atau inflasi yang dipicu faktor eksternal sehingga Islam memandangnya sebagai realitas ekonomi yang harus dihadapi secara adil oleh seluruh pihak.
Menurut Irfan, penguatan dolar AS terhadap rupiah otomatis meningkatkan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu membuat kenaikan harga menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
"Ketika kurs dolar AS menguat terhadap rupiah, rupiah kita mengalami depresiasi. Secara otomatis, pada industri-industri yang input atau bahan bakunya berasal dari impor, mereka mau tidak mau harus menaikkan harga," kata Irfan saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (5/6/2026).
"Kita juga harus menjaga jangan sampai mereka mengalami kerugian," ucapnya.
View this post on Instagram