Ahad 07 Jun 2026 10:15 WIB

Pelemahan Rupiah, Ekonom Syariah: Islam Bolehkan Penyesuaian Harga, Asal tidak Eksploitatif

Islam membedakan antara penyesuaian harga yang wajar dan keuntungan berlebihan .

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berujung pada kenaikan harga berbagai barang dinilai sebagai bentuk inflasi yang terjadi di luar kendali pelaku ekonomi dalam negeri.

Pengamat Ekonomi Syariah dari IPB University, Irfan Syauqi Beik, menyebut fenomena tersebut sebagai involuntary inflation atau inflasi yang dipicu faktor eksternal sehingga Islam memandangnya sebagai realitas ekonomi yang harus dihadapi secara adil oleh seluruh pihak.

Baca Juga

Menurut Irfan, penguatan dolar AS terhadap rupiah otomatis meningkatkan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu membuat kenaikan harga menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

"Ketika kurs dolar AS menguat terhadap rupiah, rupiah kita mengalami depresiasi. Secara otomatis, pada industri-industri yang input atau bahan bakunya berasal dari impor, mereka mau tidak mau harus menaikkan harga," kata Irfan saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (5/6/2026).

"Kita juga harus menjaga jangan sampai mereka mengalami kerugian," ucapnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi