Sabtu 06 Jun 2026 14:01 WIB

Rupiah Melemah, Muhammadiyah Ingatkan Akhlak Bisnis saat Ekonomi Sulit

Pelemahan rupiah dinilai menjadi ujian bagi pebisnis untuk tetap menjaga etika.

Rep: Muhyiddin/ Red: Gita Amanda
Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18 ribu per dolar AS tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18 ribu per dolar AS tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18 ribu per dolar AS tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Di tengah situasi tersebut, Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna, mengingatkan para pelaku usaha agar tetap menjaga etika bisnis dan nilai-nilai Islam dalam menghadapi tekanan ekonomi.

Menurut Mukhaer, depresiasi rupiah yang terus berlanjut menunjukkan menurunnya kepercayaan pasar terhadap sejumlah kebijakan fiskal pemerintah. Kondisi itu berdampak pada meningkatnya harga barang, terutama kebutuhan pokok yang masih bergantung pada komponen impor.

Baca Juga

"Saat ini, pasar lagi menghukum pemerintah. Akibatnya, harga terus mendaki. Apalagi kebanyakan produk kebutuhan pokok itu komponen utamanya adalah impor," ujar Mukhaer saat dihubungi Republika, Sabtu (6/6/2026).

Ia menilai, dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, Islam mengajarkan umat agar tidak panik menghadapi gejolak harga. Masyarakat diminta melakukan penyesuaian pengeluaran rumah tangga dengan memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting dan mendesak.

"Perlu restrukturisasi anggaran rumah tangga. Fokus utama pada alokasi anggaran yang genting dan penting saja. Jangan banyak konsumsi di sektor-sektor tersier. Harus dijaga. Jangan melakukan akses pembiayaan yang tidak produktif," ucapnya.

Selain berhemat, Mukhaer menekankan pentingnya memperkuat solidaritas sosial di tengah tekanan ekonomi. Menurutnya, semangat saling membantu menjadi salah satu solusi untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak kenaikan harga.

Ia menjelaskan Islam memandang fluktuasi harga sebagai bagian dari mekanisme pasar yang alami dan merupakan ketentuan Allah selama tidak diwarnai praktik kecurangan. Namun, menurutnya, persoalan yang kerap muncul di Indonesia adalah adanya distorsi pasar akibat dominasi kelompok pemodal besar.

"Yang jadi soal, kecurangan atau distorsi pasar sudah menjadi kelaziman dalam pasar di Tanah Air. Pasar tidak fair, karena mekanisme distribusi barang dan jasa dikuasai oleh pemilik modal raksasa," katanya.

Mukhaer mengakui bahwa pelaku usaha saat ini menghadapi tantangan berat akibat penurunan daya beli masyarakat yang berimbas pada merosotnya omzet penjualan. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari ujian yang harus dihadapi setiap pebisnis.

"Bisnis itu tidak berjalan linear. Sarat dengan liku-liku serta suka dan duka. Bukan pelaku bisnis yang sukses jika tidak pernah mengalami ujian. Banyak contoh sukses sejak zaman sahabat Rasulullah hingga era kontemporer," ujarnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi