REPUBLIKA.CO.ID,MADINAH — Jamaah haji penyandang disabilitas, didampingi Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI, Deka Kurniawan, melakukan audiensi resmi dengan Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan). Pertemuan ini berlangsung di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah, Arab Saudi, pada Selasa (2/6/2026).
Jamaah haji yang mewakili ragam disabilitas fisik, netra dan autis (ASD) itu berasal dari dua organisasi disabilitas (Opdis), yakni Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI), serta orang tua dari penyandang autis dewasa.
“Keterlibatan mereka dalam audiensi ini merupakan bentuk penerapan prinsip HAM, Nothing About Us Without Us, merekalah yang paling mengerti tentang dunia disabilitas, jadi jangan sampai mereka tidak dilibatkan dalam penyelenggaraan haji inklusif,” jelas Deka yang merupakan anggota Tim Koordinasi Kemenhaj ini.
Deka mengungkapkan, tujuan audiensi ini sendiri adalah dalam rangka mengapresiasi penyelenggaraan haji tahun 2026 yang mengusung tagline Haji Inklusif, sekaligus menyampaikan aspirasi untuk penyelenggaraan haji tahun 2027.
“Kemenhaj melakukan lompatan besar dengan mengangkat tema ramah Lansia, Disabilitas sekaligus perempuan ini, karena pemenuhan hak bagi ketiga kelompok rentan dalam ibadah haji ini merupakan mandat hukum nasional dan internasional,”jelas Deka lagi.
Deka juga menekankan, komitmen Kemenhaj untuk mengusung pelayanan inklusif bagi Lansia, Disabilitas dan Perempuan membuktikan Kemenhaj konsisten dalam mewujudkan misi ketiga Penyelenggaraan Haji 2026, yakni sukses peradaban dan keadaban.
“Peradaban yang maju diukur dari sejauh mana kolompok rentan ini mendapatkan perlakuan yang setara dari negara dan masyarakat, hak-haknya dihormati, dilindungi dan dipenuhi,” terang Deka.