REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Saat banyak pihak menantikan pengumuman perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran, situasi justru bergerak ke arah yang lebih berbahaya. Ketegangan meningkat dan muncul indikasi upaya untuk kembali membuka medan perang melawan Iran melalui Lebanon.
Menurut Aljazeera, Selasa (2/6/2026), sejumlah analis menilai bahwa Lebanon kini telah menjadi kartu penting dalam konfrontasi yang melibatkan dimensi diplomatik maupun militer.
Di tengah pembicaraan mengenai penyusunan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran, serta sehari sebelum putaran keempat perundingan antara pemerintah Israel dan Lebanon, militer Israel secara mendadak meminta warga di kawasan Dahiyeh Selatan, Beirut, untuk segera mengungsi.
Menanggapi eskalasi tersebut, Kantor Berita Tasnim Iran melaporkan bahwa Teheran menangguhkan perundingannya dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, kalangan militer Iran menyatakan kemungkinan mengaktifkan seluruh front perlawanan, termasuk Selat Bab al-Mandab, sebagai respons terhadap perkembangan yang terjadi di Lebanon.
Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanannya, Israel Katz, mengumumkan mereka telah memerintahkan militer untuk menyerang sejumlah target di Dahiyeh Selatan, Beirut.
Sebagai tanggapan, Komandan Markas Khatam al-Anbiya Iran mengeluarkan peringatan serupa kepada penduduk Israel bagian utara.
Menurut penulis dan analis politik Johnny Mounir, perkembangan mendadak ini tidak menunjukkan perubahan dalam kondisi tenang yang penuh kewaspadaan antara Iran dan Israel.