REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan, potensi ekonomi dari ibadah kurban secara nasional pada tahun ini mencapai Rp26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban (shohibul qurban) dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.
Berdasarkan proyeksi IDEAS, jumlah hewan kurban tersebut terdiri atas 493,18 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing/domba. Dari total itu, potensi distribusi daging kurban diperkirakan mencapai 99,29 ribu ton.
Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengatakan, estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah penduduk Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/ kota sebagai proksi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban.
“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan 1/7 sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” kata Tira kepada Republika pada Senin (25/5/2026)
Meski nilainya masih besar, proyeksi ekonomi kurban 2026 menunjukkan pelemahan dibandingkan 2025 yang mencapai Rp 27,10 triliun. Penurunan diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan berbobot besar.
IDEAS mencatat jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10,17 ribu ekor dan kambing/ domba turun sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut berdampak pada potensi distribusi daging kurban yang menurun sekitar 1,85 ribu ton.
Menurut Tira, perubahan pola tersebut menunjukkan adanya penyesuaian perilaku konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi domestik.
“Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan kambing dan domba dengan bobot 40 kilogram dan 20 kilogram,” ujarnya.
Ia menilai pergeseran tersebut menjadi sinyal awal bahwa daya beli masyarakat mulai mengalami tekanan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, serta harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.