Jumat 22 May 2026 16:40 WIB

Mampu tapi tak Mau

Manusia seringkali mengelak atau berdalih agar terhindar dari beban syariat.

Jamaah membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jamaah membaca Alquran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Sejumlah umat muslim, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak amal ibadah dengan membaca Al-Quran dan berdzikir di masjid sebagai upaya memperbaiki diri pada bulan suci.

Oleh: Hasan Basri Tanjung, Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/Ketua Yayasan Dinamika Umat

REPUBLIKA.CO.ID, Sejatinya, dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dituntut kepatuhan dan kesungguhan. Namun, manusia seringkali mengelak atau berdalih agar terhindar dari beban syariat dan tidak menanggung dosa meninggalkannya.

Seakan, jika manusia mematuhi yang akan mendapat keuntungan adalah Allah SWT. Padahal, manusialah yang butuh akan amal kebaikan dan menjauhi keburukan, sementara Dia adalah Dzat yang tidak butuh apapun dari makhluk di alam semesta (QS. Ali Imran[3]: 97).

Baca Juga

Walaupun semua manusia dan jin taat beribadah kepada Allah SWT., tidak akan meninggikan-Nya, dan jika larut dalam kemaksiatan pun tidak akan menurunkan keagungan-Nya. Segala akibat perbuatan manusia yang baik atau buruk akan kembali kepada dirinya sendiri (QS. Al-Isra`[17]: 7). Dalam hal kepatuhan menjalankan perintah Ilahi, baik dalam ibadah ritual, sosial, intelektual maupun spritual, manusia terbagi menjadi empat macam.

Pertama, tak mampu dan tak mau. Inilah kelompok manusia yang paling rendah, susah dan menyusahkan, sebab tidak tahu diri. Mereka tidak tahu hakikat dirinya, dari mana, sedang dimana, hendak ke mana dan untuk apa diciptakan. Mereka tidak punya kemampuan fisik, materi, ilmu dan tak mau pula melakukan kewajiban atau kebaikan yang semestinya.

Semisal, seorang tak mampu (miskin), tapi tidak mau belajar atau sekolah walaupun ada yang mau membantunya. Walau pun ada yang menolong, mereka malas, lalai akan tugas dan mudah putus asa. Jika diberi peluang atau tantangan, mereka overthinking, keluh kesah dan mencari alasan. Mereka berdalih, ”Buat apa sekolah, nanti juga susah dapat kerja kalau tidak ada orang dalam” (QS. Al-Ma’arif[70]: 19-20).

Mereka sudah miskin sombong pula. Allah SWT tidak suka kepada orang kaya yang sombong, apalagi orang miskin. Nabi SAW pernah bersabda, bahwa kelak pada Hari Kiamat Allah SWT tak menyapa, tak mau menengok dan menyucikan mereka, lalu ditimpa azab yang pedih, yakni orang tua yang berzina, pemimpin yang pendusta dan orang miskin yang sombong (HR. Muslim).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement