REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI— Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab pada Selasa (20/5/2026) mengumumkan bahwa pesawat-pesawat nirawak (drone) yang menyerang area sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah pada Ahad lalu berasal dari wilayah Irak.
Pemerintah Emirat menegaskan, mereka memiliki hak penuh untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatan dan keamanan nasional, sesuai hukum dan piagam internasional.
Sebelumnya, pada Ahad, kantor media pemerintah Abu Dhabi menyatakan bahwa pihak berwenang telah menangani kebakaran yang terjadi pada generator listrik di luar kawasan inti PLTN Barakah yang berada di wilayah Al Dhafra.
Dilansir Aljazeera, Rabu (20/5/2026), menurut penjelasan resmi, kebakaran tersebut disebabkan oleh serangan drone.
Tidak ada korban jiwa maupun dampak terhadap tingkat keselamatan radiasi, sementara seluruh prosedur pencegahan dan pengamanan telah dijalankan.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Kementerian Pertahanan Emirat mengatakan bahwa hasil pelacakan dan pemantauan teknis terkait serangan terang-terangan terhadap PLTN Barakah pada 17 Mei 2026 menunjukkan bahwa tiga drone yang digunakan seluruhnya datang dari wilayah Irak.
Kementerian juga mengungkapkan bahwa selama 48 jam terakhir, sistem pertahanan udara Emirat berhasil mendeteksi dan menggagalkan enam drone musuh yang mencoba menargetkan kawasan sipil dan fasilitas vital di negara tersebut.
Pihak militer menegaskan bahwa pasukan pertahanan udara berhasil mencegat dan melumpuhkan seluruh target dengan tingkat kesiapan dan efisiensi tinggi, tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan pada infrastruktur penting.