REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Dalam fenomena astronomi yang sangat langka dan hanya terjadi dalam rentang siklus waktu yang panjang, dunia Islam pada 2026 akan menyaksikan peristiwa istimewa yang mempertemukan kesakralan waktu dengan ketepatan posisi alam semesta.
Pada momen itu, perhitungan kalender Hijriyah dan kalender matahari seolah bertemu dalam satu titik yang menampilkan keagungan keteraturan kosmik sekaligus keterkaitannya dengan ibadah besar umat Islam.
Pada Rabu, 27 Mei 2026, dunia tidak hanya memasuki hari biasa. Hari itu menjadi momen ketika matahari tepat berada di atas langit Kota Suci Makkah pada waktu zuhur, bertepatan dengan gema takbir Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriyah dan berkumandangnya adzan Zhuhur di Masjidil Haram.
Dilansir dari Aljazeera, Rabu (20/5/2026), keistimewaan fenomena ini terletak pada perbedaan mendasar antara tahun matahari yang berjumlah sekitar 365,24 hari dan tahun Qamariyah (Hijriyah) yang hanya sekitar 354,36 hari.
Selisih sekitar 10,8 hari setiap tahun itulah yang membuat hari-hari besar Islam terus berpindah melintasi musim. Karena itu, Ramadhan kadang hadir di musim panas dan pada waktu lain datang di musim dingin.
Tahun Hijriyah membutuhkan sekitar 33 tahun untuk kembali ke titik yang sama dalam kalender matahari.
Tepatnya sekitar 32,58 tahun. Inilah yang membuat momentum tertentu dalam kalender Islam sesekali kembali bertepatan dengan waktu astronomis tertentu.




