Senin 18 May 2026 09:30 WIB

Trump dan Netanyahu Kembali Komunikasi Intens, Perang dengan Iran akan Kembali Meletus?

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dengan Presiden Donald Trump sebelum keberangkatan presiden dari Bandara Internasional Ben Gurion Israel pada 23 Mei 2017.
Foto: Kobi Gideon/GPO
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dengan Presiden Donald Trump sebelum keberangkatan presiden dari Bandara Internasional Ben Gurion Israel pada 23 Mei 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Di tengah gencatan senjata yang disebut-sebut sebagai peluang untuk membuka ruang negosiasi antara Washington dan Teheran, bayang-bayang perang kembali menyelimuti kawasan.

Ketegangan meningkat seiring memanasnya pernyataan politik dan semakin menyempitnya ruang kompromi, terutama terkait jalur perundingan, program nuklir Iran, dan persoalan Selat Hormuz.

Baca Juga

Di antara syarat-syarat Amerika Serikat, ancaman Iran akan balasan keras, serta kesiapsiagaan Israel, kawasan Timur Tengah tampak bergerak menuju babak konfrontasi baru jika tidak segera tercapai terobosan politik yang nyata.

Pada Ahad (17/5/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan jarum jam terus berdetak bagi Iran, dan mereka harus bergerak sangat cepat, jika tidak maka tidak akan ada yang tersisa dari mereka.

Trump juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras apabila tidak mengajukan tawaran yang lebih baik untuk mencapai kesepakatan, sebagaimana dilaporkan situs Axios, dikutip Aljazeera, Senin (18/5/2026).

Situs tersebut juga mengutip pejabat Amerika yang menyebut Trump masih lebih memilih tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Namun, penolakan Iran terhadap sejumlah tuntutan Washington serta ketidaksiapannya memberikan konsesi besar—terutama terkait program nuklir—membuat opsi militer kembali dipertimbangkan.

Menurut para pejabat itu, Trump dijadwalkan menggelar rapat di Situation Room Gedung Putih pada Selasa mendatang bersama para petinggi tim keamanan nasionalnya guna membahas opsi tindakan militer terhadap Iran, menyusul pertemuan sebelumnya yang digelar Sabtu lalu.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement