Rabu 13 May 2026 16:56 WIB

Ekonomi Kelas Menengah Tertekan, Pekurban 2026 Diprediksi Beralih ke Hewan yang Lebih Murah

Masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memeriksa kesehatan hewan kurban di salah satu pusat penjualan hewan kurban di Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026). Pemerintah Kota Bandung mengerahkan sebanyak 184 petugas untuk memeriksa kesehatan dan kelayakan hewan kurban, baik sebelum maupun setelah penyembelihan yang ditujukan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang beredar di Kota Bandung dalam kondisi sehat dan layak untuk dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memeriksa kesehatan hewan kurban di salah satu pusat penjualan hewan kurban di Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026). Pemerintah Kota Bandung mengerahkan sebanyak 184 petugas untuk memeriksa kesehatan dan kelayakan hewan kurban, baik sebelum maupun setelah penyembelihan yang ditujukan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang beredar di Kota Bandung dalam kondisi sehat dan layak untuk dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha 1447 H.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lembaga Riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menerangkan bahwa situasi ekonomi saat ini terjadi kenaikan harga pangan, biaya hidup, dan tekanan terhadap pendapatan riil rumah tangga, sehingga membuat masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran termasuk dalam memilih hewan kurban. Meski ibadah kurban tetap memiliki ketahanan sosial yang kuat, tetapi pola partisipasinya mulai berubah mengikuti kemampuan ekonomi masyarakat.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara menyampaikan bahwa potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp 26,89 triliun dengan total pekurban sekitar 1,90 juta rumah tangga. Dari jumlah tersebut, total hewan kurban diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor dengan potensi distribusi daging sekitar 99,29 ribu ton.

Baca Juga

Estimasi tersebut dihitung menggunakan pendekatan jumlah Muslim dengan tingkat pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan kabupaten/ kota sebagai proksi kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk berkurban. Perhitungan juga mempertimbangkan preferensi jenis hewan dan bobot kurban, mulai dari sapi utuh 750 kilogram, 500 kilogram, 250 kilogram, skema patungan 1/7 sapi, hingga kambing dan domba dengan kategori bobot 80 kilogram, 60 kilogram, 40 kilogram, dan 20 kilogram.

"Sementara potensi daging dihitung berdasarkan estimasi karkas efektif, yakni 57 persen untuk sapi dan 41 persen untuk kambing/ domba, dengan asumsi 75 persen daging siap distribusi kepada masyarakat," kata Tira kepada Republika, Rabu (13/5/2026)

Ia mengatakan, meski nilainya masih besar, proyeksi 2026 menunjukkan adanya pelemahan dibandingkan 2025 yang mencapai Rp 27,10 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban dan menurunnya preferensi masyarakat terhadap hewan kurban berbobot besar.

Berdasarkan simulasi bobot hewan, hampir seluruh kategori mengalami penurunan, terutama pada sapi utuh dan kambing premium berbobot tinggi. Hanya kategori kambing/ domba 40 kilogram dan 20 kilogram yang menunjukkan peningkatan.

"Pola ini memperlihatkan adanya perubahan perilaku konsumsi masyarakat dalam berkurban. Masyarakat masih berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau," ujar Tira.

photo
Infografis Bolehkah Kurban 1 Kambing untuk Sekeluarga? - (Republika)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement