REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Serangan roket Hizbullah masih menjadi salah satu ancaman utama yang diakui Israel belum berhasil dihadapi dan ditangani hingga saat ini.
Hal tersebut mendorong Tel Aviv—menurut media Israel—untuk mengancam akan memperluas operasi militer darat guna menghadapi tantangan ini, meskipun telah diumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Saluran TV Israel Channel 12 melaporkan, militer sedang bersiap untuk memperluas operasi daratnya di Lebanon sambil menunggu keputusan dari tingkat politik.
Hal ini di tengah apa yang digambarkannya sebagai ancaman besar yang ditimbulkan drone-drone bermuatan ledakan terhadap pasukan Israel yang masuk ke wilayah selatan Lebanon.
Tentara Israel hampir setiap hari mengumumkan korban di barisan pasukannya akibat serangan drone saat mereka melakukan operasi penyerbuan dan penghancuran bangunan serta fasilitas di kota-kota di selatan Lebanon.
Meskipun Tel Aviv mengklaim telah melakukan upaya teknologi dan intelijen, Radio Angkatan Darat Israel mengungkapkan keberhasilan salah satu drone Hizbullah dalam menyerang baterai yang merupakan bagian dari sistem Iron Dome.
100 operator drone
Pada hari Senin, militer Israel memperkirakan jumlah operator drone bom milik Hizbullah sekitar 100 orang, dan mengklaim bahwa 5 hingga 10 di antaranya telah mereka bunuh.
Radio Angkatan Darat Israel menggambarkan pengoperasian drone yang dilengkapi teknologi serat optik sebagai operasi yang rumit. Dia menyebutkan bahwa operatornya menjalani pelatihan khusus.
יום בקו העימות: רחפן נפץ חמוש של חיזבאללה משוטט הבוקר סמוך לכפר גלעדי pic.twitter.com/Apcc0Lfy2y
— איתי בלומנטל 🇮🇱 Itay Blumental (@ItayBlumental) May 9, 2026




