Kamis 07 May 2026 18:25 WIB

Hindari Kultus Individu untuk Cegah Kejahatan Berkedok Agama

Kultus individu yang tidak terkendali hanya akan membuka ruang bagi oknum.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ketua Umum PP Persis, KH. Jeje Zaenudin
Foto: Persis
Ketua Umum PP Persis, KH. Jeje Zaenudin

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menyikapi maraknya kasus pelecehan seksual oleh oknum yang mengaku tokoh atau guru agama, Ketua Umum PP Persis KH Jeje Zaenudin menyerukan pentingnya bagi umat untuk menjauhi pola beragama dogmatis-mistis. Ia menegaskan bahwa kultus individu yang tidak terkendali hanya akan membuka ruang bagi oknum untuk menyalahgunakan otoritas spiritual demi kepentingan pribadi yang melanggar syariat.

Kiai Jeje mengatakan, sebagai Ketua Umum PP Persis menyampaikan pernyataan duka dan keprihatinan yang mendalam, karena selain sangat berdampak buruk serta merugikan terhadap citra pemuka dan lembaga agama, juga menggoreskan luka traumatik yang mendalam terhadap para korban.

Baca Juga

"Kami mengutuk keras segala bentuk pelecehan seksual, eksploitasi, dan tindakan amoral yang dilakukan oleh oknum yang mengaku atau dianggap sebagai tokoh, guru agama, atau pemimpin spiritual," kata Kiai Jeje kepada Republika, Kamis (7/5/2026)

Kiai Jeje mengatakan, tindakan tersebut merupakan dosa besar, juga pengkhianatan atas amanah ilmu, serta penghancuran citra ulama dan lembaga pendidikan Islam. Pelaku adalah oknum yang tidak boleh dianggap mewakili agama maupun lembaga Islam manapun.

"Islam adalah agama kemuliaan dan kehormatan. Tidak ada tempat bagi pelaku kejahatan seksual yang memanfaatkan simbol, jabatan, atau otoritas agama," ujar Kiai Jeje.

Ketua Umum PP Persis ini menegaskan, tidak ada kekebalan atau kesucian bagi siapa pun. Setiap muslim, termasuk ustadz, kyai, dan pemimpin spiritual, wajib tunduk pada syariat, akhlak mulia, dan hukum negara. Karena itu PP Persis menuntut penegakan hukum yang tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu terhadap pelaku. Menolak segala bentuk pembelaan atas nama martabat pesantren atau majelis, penyelesaian damai paksa, atau adat yang merugikan korban.

photo
Ciri khas santri yang belajar di pesantren - (Republika)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement