REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bertolak ke Beijing pada Selasa (6/5/2026) ini dalam rangka melanjutkan konsultasi diplomatik dengan sejumlah negara.
Dalam kunjungan tersebut, dia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi untuk membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional.
Kunjungan ini berlangsung di tengah situasi yang kompleks, di mana eskalasi militer berkelindan dengan tekanan ekonomi.
Teheran memandang Beijing sebagai mitra strategis yang mampu membantu meredakan sebagian isolasi, atau setidaknya mencegah blokade laut berubah menjadi alat untuk melumpuhkan ekonomi Iran.
Karena itu, perjalanan Araghchi bukan sekadar agenda diplomatik rutin, melainkan upaya memperkuat kembali peran China dalam menopang ketahanan Iran, baik secara politik, ekonomi, maupun keamanan.
Sementara Washington berharap tekanan maritim dan sanksi sekunder dapat memaksa Iran mundur, Teheran justru berupaya meyakinkan Beijing bahwa kelanjutan pembelian minyak Iran, penolakan bergabung dalam aliansi maritim Barat, serta pemanfaatan pengaruh China di Dewan Keamanan merupakan faktor kunci untuk menjaga keseimbangan krisis.
Dari sini muncul pertanyaan besar: sejauh mana China mampu menjadi “penyelamat” nyata bagi Iran dalam menghadapi tekanan blokade, atau justru memilih bersikap hati-hati dengan menyeimbangkan kepentingannya antara Teheran dan Washington?
Berikut ini enam tanya jawab yang menjelaskan kunjungan Araghchi ke Tiongkok sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Selasa (6/5/2026).
Pertama, apakah Iran mengandalkan China untuk menghindari tekanan blokade laut?
Peneliti politik Iran, Mehdi Khorratian, menilai kunjungan Araghchi ke Beijing terjadi pada momen yang sangat sensitif.
Lihat postingan ini di Instagram




