REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, Selasa (5/5/2026) kemarin, bahwa Amerika Serikat telah menghentikan operasi ofensifnya terhadap Iran dan kini berada dalam fase defensif.
Sementara Teheran mengumumkan pembentukan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi mengancam akan memberikan tanggapan tegas terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi selat tanpa mengikuti rute yang ditetapkan.
Rubio mengumumkan, dalam konferensi pers di Gedung Putih, Operasi Kemarahan Epik telah berakhir, sebagaimana telah diberitahukan Presiden Donald Trump kepada Kongres.
“Kami telah menyelesaikan tahap ini," kata dia sambil menambahkan Washington kini berada dalam fase pertahanan dengan operasi baru yang diumumkan Presiden Trump dan diberi nama "Proyek Kebebasan".
Menteri Luar Negeri AS itu menjelaskan bahwa tujuan utama operasi ini adalah menolong awak kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Dia mencatat bahwa para pelaut di Teluk terisolasi, kelaparan, dan dalam bahaya, dan setidaknya sepuluh pelaut telah tewas akibatnya, mereka adalah pelaut sipil, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan secara sepihak memulai tembakan, namun menekankan bahwa pasukan AS yang melaksanakan operasi ini akan membalas dengan tindakan mematikan jika diserang.
Lihat postingan ini di Instagram




