REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV—Pernyataan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, memicu gelombang reaksi luas di media sosial setelah Dia mengungkapkan sebuah ucapan yang dinisbatkan kepada putranya yang terluka di Lebanon.
Putra Sang Menteri tersebut menyatakan keinginannya untuk “meninggalkan sesuatu untuk dilakukan di Lebanon,” dalam konteks yang oleh para pengamat dianggap mengandung makna eskalatif.
Pernyataan tersebut disampaikan Smotrich saat tampil dalam sebuah program podcast di Channel 7 Israel.
Dikutip Aljazeera, Selasa (5/5/2026), Smotrich membahas kondisi kesehatan putranya yang terluka saat menjalani dinas militer di Brigade “Givati” dalam bentrokan di perbatasan Lebanon pada Maret lalu.
Menurut keterangan yang disampaikan, putra Sang Menteri mengalami luka lebih parah daripada yang diungkapkan sebelumnya.
Dia terkena serpihan peluru di bagian hati, sehingga harus dievakuasi melalui udara untuk mendapatkan perawatan, dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum memasuki tahap pemulihan.
Smotrich menyebut keselamatan putranya sebagai sebuah keajaiban, dan menegaskan bahwa kondisinya membaik dengan cepat selama masa rehabilitasi.
Para aktivis dan pengamat menilai bahwa pernyataan Smotrich mencerminkan kecenderungan garis keras dalam pemerintahan Israel, serta memperkuat kekhawatiran akan berlarutnya eskalasi di kawasan, terutama di tengah ketegangan yang berlangsung di front Lebanon.
Smotrich: 'My son wants me to leave some Lebanon for him to destroy later. I told him don't worry, there will be enough for everyone.'
Generational evil pic.twitter.com/4uN3Lup4Y2
— Ounka (@OunkaOnX) May 4, 2026




