REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Sebuah lagu karya qari Alquran terkemuka dan penyanyi religi asal Kuwait, Misyary Rasyid Al-Afasy, berjudul "Tabat Aydin Iran wal-li ma'a Iran" memicu perdebatan luas di media sosial dan beberapa media massa.
Perdebatan tersebut muncul karena apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai penyimpangan dari pola biasa karya-karya nyanyian keagamaan.
Hal ini karena lagu tersebut memiliki nuansa politik langsung yang membahas posisi terkait Iran dan pihak-pihak lain, selain penggunaan gaya bahasa yang terinspirasi dari gaya Alquran dalam Surah Al-Masad, yang semakin meningkatkan sensitivitas topik tersebut di kalangan pengikut.
Publik terpecah antara pendukung yang melihat karya tersebut sebagai ekspresi sikap politik yang sah.
Sementara kubu lain berada di pihak penentang yang menganggapnya mencampuradukkan antara agama, seni, dan politik.
Lagu tersebut berubah menjadi perdebatan luas mengenai batas-batas ekspresi dalam karya nyanyian keagamaan dan peran tokoh-tokoh agama dalam isu-isu politik.
Di Mesir, lagu ini mendapat pertentangan keras dari tokoh-tokoh Al-Azhar. Guru besar ilmu hadis Universitas Al-Azhar Mesir, Syekh Mohamed Ebrahim Al-Ashmawey




