Rabu 29 Apr 2026 17:43 WIB

Konflik Iran dan Geopolitik Global, UIA Dorong Mahasiswa Berpikir Kritis

UIA menilai pentingnya berpikir kritis respons konflik global.

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Foto korban serangan udara AS-Israel dipajang di depan reruntuhan bangunan di Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). Serangan AS-Israel ke Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Dari jumlah korban itu, sedikitnya 210 anak dikabarkan tewas sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan setelah perundingan perdamaian yang diadakan di Islamabad pada 11 April.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Foto korban serangan udara AS-Israel dipajang di depan reruntuhan bangunan di Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). Serangan AS-Israel ke Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Dari jumlah korban itu, sedikitnya 210 anak dikabarkan tewas sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan setelah perundingan perdamaian yang diadakan di Islamabad pada 11 April.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI – Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) mendorong mahasiswa untuk memperkuat literasi kritis dan pemahaman geopolitik di tengah memanasnya dinamika konflik global, khususnya yang melibatkan Iran.

Langkah ini dinilai penting agar generasi muda mampu menyikapi perkembangan internasional secara rasional dan tetap berorientasi pada kepentingan nasional Indonesia.

Baca Juga

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk "Dinamika Konflik Global dan Tanggung Jawab Moral Dunia Islam: Refleksi Atas Perkembangan Terbaru Iran" yang digelar di kampus UIA, Jalan Raya Jatiwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026).

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA), Dailami Firdaus, menyatakan Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim harus mampu menyikapi konflik global secara bijak.

Menurut dia, masyarakat tidak boleh terbawa arus konflik internasional hingga memicu perpecahan di dalam negeri.

"Siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana sikap kita ke depannya sebagai bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam untuk menjaga agar bangsa ini tetap utuh. Jangan sampai kita terpengaruh lebih dalam sehingga konflik tersebut bergeser atau berdampak ke Indonesia," ujar Dailami.

Dia menilai, pemerintah dan lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam mencegah munculnya konflik pemikiran di tengah masyarakat.

Melalui edukasi yang tepat, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, rasional, dan tidak mudah terprovokasi.

"Pada akhirnya, peperangan ini sebetulnya berkaitan dengan upaya hegemoni pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan pemahaman dan kecerdasan kepada para mahasiswa. Kalian harus mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah," ucap Dailami.

Dailami menegaskan, pihaknya tidak berada dalam ranah politik praktis untuk mendukung pihak tertentu. Fokus utama lembaganya adalah mengedukasi masyarakat, terutama mahasiswa, berdasarkan nilai konstitusi dan kepentingan nasional.

"Kami berupaya mengedukasi masyarakat, khususnya mahasiswa. Dari diskusi ini hasilnya luar biasa, banyak ide-ide yang murni dan sangat baik, yang tentu bisa mencerahkan para peserta serta mendorong akademisi untuk turut berbicara berdasarkan dasar konstitusi dan demi kepentingan Indonesia," katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement