Rabu 29 Apr 2026 18:00 WIB

Ini Perbedaan yang Sangat Mencolok Sistem Ekonomi Islam dengan Kapitalisme dan Komunisme

Sistem ekonomi Islam menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan publik.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Nashih Nashrullah
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat volume transaksi melalui BSI Agen mengalami pertumbuhan sebesar 14,54 persen (year-on-year/yoy) dengan jumlah 8,6 juta transaksi hingga Maret 2026.
Foto: Ahmad Fikri Noor/Republika
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat volume transaksi melalui BSI Agen mengalami pertumbuhan sebesar 14,54 persen (year-on-year/yoy) dengan jumlah 8,6 juta transaksi hingga Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sistem ekonomi Islam hadir sebagai solusi moderat di antara dua ekstrem: kapitalisme yang memuja kebebasan tanpa batas dan komunisme yang menghapuskan hak pribadi.

Mengutip pemikiran Afzalurrahman dalam buku Nabi Muhammad Sebagai Seorang Pedagang, Islam meramu sifat-sifat terbaik dan membuang jauh keburukan-keburukan dari kedua sistem tersebut sehingga ekonomi Islam dapat menciptakan keseimbangan dan bebas dari keburukan kapitalisme serta komunisme

Baca Juga

Afzalurrahrnan dalam bukunya menerangkan bahwa sistem ekonomi lslam pada dasarnya berbeda dengan kapitalisme dan komunisme. Tetapi dalam beberapa hal merupakan kompromi antara kedua ekstrem tersebut, dan berdiri di antara keduanya.

Sistem ekonomi Islam memiliki sifat-sifat baik dari kapitalisme dan komunisme, namun terlepas dari sifat-sifat buruk dari keduanya.

Dalam sistem ekonomi Islam, hubungan antara individu begitu terorganisir sehingga mereka dapat mengembangkan semangat keriasama dan saling membantu sebagai pengganti rasa permusuhan dan persaingan.

Sistem ekonomi Islam tidak hanya memberikan fasilitas yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan di bidang ekonomi dan sosial saja, tetapi juga memberikan pendidikan dan Latihan moral.

Dengan demikian membantu kawan sekerja mereka untuk mendapatkan apa-apa yang mereka inginkan atau setidak-tidaknya bukan untuk merintangi perjuangan hidup, mereka rasakan sebagai kewajiban.

lslam memandang persoalan ekonomi tidak dari perspektif kapitalis, yang memberikan kebebasan dan hak kepemilikan tak terbatas pada setiap individu serta mendukung eksploitasi seseorang.

photo
Halal jadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional dengan rantai pasok halal naik 6,21 persen menurut Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2026. - (Tim Infografis)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement