REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Hizbullah bersiap menerapkan taktik-taktik klasik yang baru dalam pertempuran ini, termasuk mengaktifkan kelompok-kelompok syuhada.
Persiapan itu berlangsung di tengah eskalasi militer Israel yang terus berlanjut di selatan Lebanon meskipun gencatan senjata antara Lebanon dan Israel telah diperpanjang.
Hal ini ditegaskan seorang pemimpin militer Hizbullah kepada Aljazeera pada Senin (29/4/2026). Sumber tersebut bersiap menerapkan taktik tempur yang berasal dari 1980-an.
Dia menunjuk pada penyebaran kelompok besar pejuang syahid di wilayah yang diduduki, sesuai dengan rencana yang telah disiapkan sebelumnya.
Pimpinan militer tersebut menjelaskan misi para pejuang syahid adalah berhadapan langsung dengan perwira dan tentara musuh di desa-desa Lebanon yang diduduki.
Berikut ini empat poin penjelesan Untuk memahami lebih dalam sifat taktik tempur yang dimaksud dalam pernyataan Hizbullah, sebagaimana dilansir Aljazeera, Rabu (29/4/2026).
Pertama, mengapa Hizbullah mengancam akan kembali ke taktik tahun 1980-an?
Pakar militer dan strategi Lebanon, Brigadir Jenderal Hassan Jouni, berpendapat bahwa pengumuman Hizbullah untuk kembali ke taktik tersebut bertujuan untuk membangkitkan ingatan Israel akan apa yang terjadi pada 1980-an dan 1990-an ketika tentara mereka masih berada di Lebanon.
Lihat postingan ini di Instagram




