REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Media Israel pada Senin (27/4/2026) mengungkap detail baru mengenai operasi perlawanan yang dilancarkan Hizbullah melalui serangan pesawat drone. Penyergapan tersebut menewaskan seorang tentara penjajah dan melukai enam lainnya di kota perbatasan Lebanon selatan, Taybeh, pada Ahad lalu.
Koresponden militer Channel 13, yang dikutip Al Mayadeen, menyebut insiden ini sebagai kejadian yang "sangat serius". Media Israel memperingatkan bahwa situasi tersebut bisa saja berkembang menjadi "bencana yang jauh lebih besar."
Peristiwa bermula ketika sebuah tank tentara Israel dari Brigade Golani mengalami kerusakan di dalam wilayah Taybeh. Saat para prajurit dari Korps Lapis Baja bergerak untuk memperbaiki dan mengevakuasi kendaraan yang lumpuh tersebut, sebuah drone bermuatan peledak menghantam posisi mereka.
Ledakan tersebut menewaskan seorang sersan dan melukai enam tentara lainnya dengan tingkat keparahan yang bervariasi, empat di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis. Para korban luka segera dievakuasi menggunakan helikopter militer menuju Rumah Sakit Rambam di Haifa, di mana tiga prajurit harus langsung menjalani prosedur pembedahan.
Dalam proses evakuasi, pihak perlawanan Lebanon kembali menargetkan helikopter Black Hawk milik Angkatan Udara Israel saat mendarat di wilayah Lebanon. Sebuah drone kedua meledak hanya beberapa meter dari helikopter tersebut. Pihak militer juga mendeteksi dan mencegat drone ketiga dalam operasi yang sama.
Sersan yang tewas dalam insiden ini tercatat sebagai korban jiwa ke-941 di jajaran militer Israel sejak 7 Oktober 2023, berdasarkan angka yang diakui secara resmi oleh tentara penjajah.




