REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Selama beberapa bulan terakhir, media Amerika Serikat dipenuhi peringatan mengenai penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam persediaan amunisi strategis akibat perang melawan Iran.
Laporan-laporan ini didasarkan pada konsumsi sangat besar dari sistem-sistem vital seperti rudal "THAAD" dan "Tomahawk"
Hal ini memicu kekhawatiran mengenai kemampuan Washington menghadapi krisis paralel yang mungkin terjadi dengan China.
Meskipun Gedung Putih dan Pentagon segera membantah adanya kesenjangan dalam kemampuan dan menegaskan kesiapan persenjataan, kontradiksi ini menempatkan para pengamat di hadapan dua kemungkinan.
Entah ada kesenjangan militer nyata yang telah berlangsung bertahun-tahun dan memaksa Washington menyesuaikan rencana darurat pertahanan terhadap Taiwan—yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki—atau bahwa bocornya angka-angka sensitif ini sengaja dimanfaatkan untuk menciptakan situasi mendesak yang membenarkan permintaan anggaran pertahanan bersejarah.
Terlepas dari seberapa akurat angka-angka ini, perdebatan tersebut membuka peluang untuk pendekatan lebih mendalam dalam melihat struktur tersembunyi dari pendanaan pertahanan AS, khususnya yang dikenal sebagai "anggaran hitam".
Apa itu anggaran hitam?
Istilah "anggaran hitam" merujuk pada bagian dari pengeluaran pemerintah yang dialokasikan untuk program intelijen dan operasi militer yang diklasifikasikan sebagai sangat rahasia, yang detailnya sepenuhnya disembunyikan dari publik.
Lihat postingan ini di Instagram