REPUBLIKA.CO.ID,VATIKAN — Hubungan diplomatik antara Washington dan Takhta Suci di Vatikan, dinilai tengah berada dalam titik kritis. Laporan terbaru dari jurnalis investigasi independen, Ken Klippenstein, mengungkapkan, badan intelijen Amerika Serikat (CIA) telah melakukan pengawasan jangka panjang terhadap Vatikan, yang kini intensitasnya meningkat menyusul kritik terbuka Paus Leo XIV terhadap Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan Klippenstein—jurnalis yang dikenal dengan rekam jejak pengungkapan dokumen bocor FBI— seperti dikutip dari laman Al Mayadeen, aktivitas intelijen AS ini sebenarnya sudah ada sebelum pemerintahan saat ini.
Meski demikian, operasi tersebut semakin diperkuat setelah Trump melontarkan kritik pedas kepada Paus pada 12 April lalu, dengan menyebut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu sebagai sosok yang buruk bagi kebijakan luar negeri.
Sejumlah elemen di komunitas intelijen AS menafsirkan pernyataan Trump sebagai sinyal untuk memperketat pengumpulan informasi terkait urusan internal Vatikan.
Penyadapan dan kemampuan bahasa latin
Laporan tersebut mengeklaim bahwa lembaga intelijen, termasuk CIA dan NSA, berupaya memantau komunikasi yang terhubung dengan Takhta Suci, dari surat elektronik (email) hingga telekomunikasi. Selain penyadapan digital, AS dikabarkan tetap mempertahankan sumber intelijen manusia (human intelligence) di dalam struktur administratif Vatikan.
Badan pemerintah AS bahkan disebut secara rutin mengedarkan ringkasan intelijen terkait urusan Vatikan. Untuk mendukung analisis intelijen tersebut, mereka juga mengerahkan personel dengan kemampuan bahasa khusus, termasuk kemahiran dalam bahasa Latin ala gereja.