REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT— Tentara Israel pada Kamis (23/5/2026) ini melaporkan cedera yang dialami sejumlah perwira dan prajuritnya di Lebanon Selatan dalam beberapa jam terakhir.
Pengumuman tersebut bertepatan dengan munculnya laporan-laporan Israel yang menyebutkan adanya perubahan dalam kebijakan pembatasan informasi militer.
Hal ini menyusul gelombang kritik internal terkait penyembunyian informasi mengenai apa yang terjadi di lapangan dalam pertempuran melawan Hizbullah.
Dilansir Aljazeera, Jumat (24/4/2026), tentara Israel mengumumkan 45 perwira dan prajuritnya terluka dalam 48 jam terakhir. Dengan demikian menambah jumlah korban luka dari kubu Israel sejak dimulainya kembali serangan terhadap Lebanon meningkat menjadi 735 tentara dan prajurit. Dari jumlah itu, 44 tentara dilaporkan kritis sedangkan100 lainnya cedera ringan.
Tentara Israel juga mengumumkan pihaknya telah mencatat setidaknya tujuh "pelanggaran" oleh Hizbullah terhadap perjanjian gencatan senjata sejak mulai berlaku, dengan mengklaim Israel belum menanggapi pelanggaran-pelanggaran ini hingga saat ini.
Namun, pada saat sama, klaim ini bertentangan dengan pengumuman bahwa mereka telah menewaskan seorang anggota Hizbullah, Rabu kemarin, dalam serangan yang menargetkan pos tembak di wilayah Sajd di selatan Lebanon.
Serangan tersebut dalam upaya menunjukkan bahwa tentara Israel masih memegang kendali dalam konfrontasi ini.
Lihat postingan ini di Instagram




