REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH – Upaya membangun kesadaran ekologis di kalangan generasi muda kembali diperkuat melalui perkuliahan Sosiologi Lingkungan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Senin (20/4/2026). Dalam sesi kuliah tersebut, mahasiswa mendapatkan perspektif langsung dari praktisi lapangan, yakni Afrizal Akmal, yang akrab disapa Akmal Senja, salah satu inisiator gerakan Hutan Wakaf Aceh.
Dalam pemaparannya, Akmal menjelaskan secara komprehensif tentang lahirnya gerakan Hutan Wakaf di Aceh, yang berangkat dari kegelisahan terhadap kerusakan lingkungan dan kebutuhan akan model konservasi berbasis nilai-nilai spiritual dan sosial. Ia menuturkan bahwa Hutan Wakaf bukan sekadar konsep konservasi, melainkan sebuah gerakan kolektif yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, dan keagamaan.
“Kesadaran menjaga lingkungan tidak bisa hanya berhenti pada tataran pengetahuan. Ia harus dimulai dari diri sendiri, dari cara kita memandang alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi,” ujar Akmal.
Lebih lanjut, ia memaparkan perkembangan jejaring Hutan Wakaf yang mulai tumbuh di berbagai wilayah, serta rencana pengembangannya ke depan sebagai model alternatif konservasi berbasis masyarakat. Dalam konteks ini, etika lingkungan menjadi fondasi utama—bahwa relasi manusia dan alam harus dibangun atas dasar tanggung jawab moral, bukan semata kepentingan ekonomi.
Salsabila, salah satu mahasiswa peserta kuliah, mengungkapkan materi yang disampaikan memberikan wawasan baru yang sangat berharga. Ia menilai bahwa pengalaman langsung dari praktisi lapangan seperti Akmal merupakan sesuatu yang jarang diperoleh dalam ruang kelas.
“Biasanya kami belajar dari teori dan buku. Tapi kali ini kami mendengar langsung dari orang yang terlibat di lapangan. Ini membuat kami lebih memahami realitas dan tantangan lingkungan secara nyata,” ujar dia.




