Kamis 16 Apr 2026 21:38 WIB

Negosiator Iran: Intervensi Netanyahu dalam Perundingan Gencatan Senjata Penghalang AS

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Foto korban serangan udara AS-Israel dipajang di depan reruntuhan bangunan di Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). Serangan AS-Israel ke Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Dari jumlah korban itu, sedikitnya 210 anak dikabarkan tewas sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan setelah perundingan perdamaian yang diadakan di Islamabad pada 11 April.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Foto korban serangan udara AS-Israel dipajang di depan reruntuhan bangunan di Teheran, Iran, Senin (13/4/2026). Serangan AS-Israel ke Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Dari jumlah korban itu, sedikitnya 210 anak dikabarkan tewas sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan setelah perundingan perdamaian yang diadakan di Islamabad pada 11 April.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN-Mohammad Marandi, anggota delegasi Iran yang ikut serta dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, mengatakan J D Vance, Wakil Presiden AS, secara terus-menerus memberi tahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai perkembangan negosiasi.

Marandi menjelaskan, dalam wawancara melalui platform YouTube pada Kamis (16/4/2026) dilansir Aljazeera, bahwa pemberitahuan Vance kepada Netanyahu mengenai jalannya negosiasi secara langsung merupakan hal yang mengerikan.

Baca Juga

"Sejarah umat manusia belum pernah menyaksikan ketundukan seperti ini," kata dia dilansir Aljazeera, Kamis. 

Dia menunjukkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam negosiasi yang diselenggarakan di Pakistan, tetap berkomunikasi dengan Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, selama negosiasi berlangsung.

Sementara Vance melakukan panggilan telepon dengan Gedung Putih dan pihak-pihak lain.

Marandi menggambarkan Israel sebagai koloni yang mengendalikan Amerika Serikat dan menganggap bahwa pemberitahuan Vance kepada Netanyahu mengenai detail negosiasi merupakan penghinaan bagi rakyat Amerika.

Dia menambahkan dalam wawancara tersebut bahwa Netanyahu dan pihak lain "secara praktis menggagalkan kesepakatan yang menguntungkan Amerika Serikat", sambil memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat menyebabkan keruntuhan ekonomi global dalam waktu dekat.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement