Selasa 14 Apr 2026 23:08 WIB

Sejarawan Oxford Inggris: Blokade Hormuz Kesalahan Fatal Sepanjang Sejarah, China Bersinar?

Trump bertaruh dengan risiko blokade Selat Hormuz.

Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026.
Foto: EPA/JEON HEON-KYUN
Warga Korea Selatan berunjuk rasa menolak kerja sama pengamanan Selat Hormuz yang diminta Presiden AS Donald Trump di luar kedutaan AS di Seoul, Korea Selatan, 16 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Situs "iPaper" menyajikan analisis kritis mengenai dampak perang yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.

Perang tersebut tidak hanya menimbulkan perubahan mendalam di Timur Tengah, tetapi juga menyebabkan pembentukan kembali tatanan sistem internasional.

Baca Juga

Ini di tengah kemunduran yang jelas dari peran AS dan kemungkinan kebangkitan kekuatan-kekuatan alternatif yang dipimpin oleh Tiongkok.

Dalam analisisnya di situs tersebut, Profesor Sejarah Dunia Universitas Oxford Peter Frankopan memulai pembahasannya dari latar belakang keputusan militer tersebut.

Perang Trump bertujuan untuk menata ulang keseimbangan regional dengan melemahkan Iran, karena negara tersebut telah dipandang selama puluhan tahun sebagai faktor ketidakstabilan akibat dukungannya terhadap jaringan sekutu bersenjata, serta pengembangan program rudal dan nuklirnya.

Namun, intervensi ini—yang seharusnya telah diperhitungkan dengan matang—segera menimbulkan dampak yang tak terkendali.

Dalam beberapa pekan, dampaknya—menurut Francopan—meluas jauh melampaui kawasan tersebut dan merusak ekonomi global secara mendalam, terutama akibat terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement