Sabtu 11 Apr 2026 10:53 WIB

Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Dukung Wacana War Tiket Haji, Ingatkan Prinsip Keadilan

Skema war tiket haji dinilai bisa diterapkan.

Rep: Muhyiddin/ Red: Ani Nursalikah
Jamaah haji asal Maluku Utara mengikuti prosesi penerimaan saat tiba di Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/6/2025). Sebanyak 389 jamaah haji dan petugas asal Maluku Utara yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 13 debarkasi Makassar telah tiba di tanah air usai melaksanakan ibadah haji 1446 H di Arab Saudi dan selanjutnya akan diterbangkan ke Ternate, Maluku Utara pada Sabtu (21/6).
Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda
Jamaah haji asal Maluku Utara mengikuti prosesi penerimaan saat tiba di Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/6/2025). Sebanyak 389 jamaah haji dan petugas asal Maluku Utara yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 13 debarkasi Makassar telah tiba di tanah air usai melaksanakan ibadah haji 1446 H di Arab Saudi dan selanjutnya akan diterbangkan ke Ternate, Maluku Utara pada Sabtu (21/6).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof KH Shofiyullah Muzammil mendukung wacana “war tiket” haji yang tengah dikaji Kementerian Haji dan Umrah RI. Namun, ia mengingatkan agar skema tersebut tidak mengabaikan prinsip keadilan (‘adalah) dan kemampuan (istitha’ah) bagi calon jamaah.

"Setuju war tiket haji diterapkan dengan catatan tidak meninggalkan prinsip ‘adalah dan istitha’ah," ujar Kiai Shofi saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (10/4/2026).

Baca Juga

Menurut dia, konsep “war tiket” tidak boleh diposisikan sebagai tujuan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji. Skema tersebut hanya merupakan instrumen atau pelengkap (tahsiniyat) untuk membantu distribusi keberangkatan jamaah.

War tiket bukan tujuan, tetapi hanya alat tahsiniyat untuk distribusi,” ucapnya.

Ia menegaskan, aspek yang lebih mendasar dalam pengelolaan haji justru terletak pada keadilan akses bagi seluruh calon jamaah. Keadilan tersebut mencakup berbagai dimensi, mulai dari antrean panjang, prioritas bagi lansia, kondisi ekonomi, hingga kesenjangan literasi teknologi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement