Jumat 10 Apr 2026 15:59 WIB

Wacana War Ticket Haji Ala Kemenhaj, Ketum PBNU: Belum Jelas, Belum Layak Diperdebatkan

War ticket Perlu perhitungan serius untuk tetap menjamin keadilan jamaah.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memberikan sambutan saat menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara peringatan Harlah Ke-100 NU Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia yang dihadiri Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR, jajaran Pengurus Besar NU, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom NU.
Foto: Edwin Putranto/Republika
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memberikan sambutan saat menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara peringatan Harlah Ke-100 NU Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia yang dihadiri Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR, jajaran Pengurus Besar NU, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom NU.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) merespons wacana penerapan sistem “war ticket” untuk keberangkatan haji dengan sikap hati-hati. Ia menilai, gagasan tersebut belum jelas sehingga belum layak diperdebatkan secara luas.

“Silakan dikaji, kita belum jelas. Kita lihat dulu sistemnya seperti apa. Kita kan belum tahu,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (10/4/2026). 

Baca Juga

Dia menegaskan, hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari Kementerian Haji dan Umrah RI mengenai konsep maupun mekanisme dari sistem yang diwacanakan tersebut. Karena itu, menurut Gus Yahya, publik sebaiknya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

“Belum ada keterangan resmi. Sistemnya seperti apa, yang ditawarkan bagaimana, itu belum jelas,”ucap Gus Yahya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Gus Yahya juga mengungkapkan, PBNU belum dilibatkan dalam pembahasan awal terkait wacana tersebut. Menurut dia, sebuah gagasan kebijakan publik semestinya melalui proses kajian yang matang dan melibatkan berbagai pihak.”Belum. Belum ada. Kalau orang gagas melamun sendiri-sendiri kan boleh saja, tapi nanti lihat apakah diajak (mengkaji) atau tidak,” kata dia.

Terkait wacana penghapusan masa tunggu haji yang kerap dikaitkan dengan sistem 'war tiket', Gus Yahya menilai hal itu memerlukan perhitungan serius agar tetap menjamin keadilan bagi jamaah.“Caranya bagaimana dulu, sistemnya bagaimana dulu supaya adil. Bagaimana dengan mereka yang sudah terlanjur menunggu? Itu harus dipikir,” jelas dia.

Ia pun enggan berspekulasi mengenai kemungkinan penerapan sistem tersebut tanpa kajian dan data yang memadai.“Masa saya harus ngomong tanpa studi? Tanpa data? Kan tidak bisa. Saya harus lihat dulu ini gagasan serius atau tidak,” ujar dia.

Menurut Gus Yahya, jika wacana tersebut sudah jelas dan resmi dibahas, PBNU siap membentuk tim untuk melakukan kajian dan memberikan rekomendasi.“Kalau ini sudah benar-benar, baru nanti kita bikin tim untuk studi, masukkan rekomendasi dan lain-lain,” ucap Gus Yahya.

photo
Jamaah calon haji mengikuti upacara pelepasan di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (7/4/2026). Sebanyak 1.275 jamaah calon haji dari Kabupaten Kediri akan diberangkatkan menuju tanah suci dalam 4 kloter. - (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement