REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lonjakan harga avtur akibat penutupan Selat Hormuz mulai berdampak pada biaya operasional maskapai penerbangan haji. Namun pemerintah Indonesia memastikan kenaikan tersebut tidak akan dibebankan kepada jamaah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan, harga bahan bakar penerbangan saat ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Kondisi tersebut membuat maskapai, termasuk Garuda Indonesia, harus menanggung beban biaya tambahan yang besar.
“Ini harga avtur, harga fuel penerbangan itu naik sangat tinggi. Naik luar biasa. Sehingga maskapai nasional kita Garuda Indonesia itu harus menanggung tambahan biaya yang juga sangat tinggi,” ujar Dahnil dalam keterangan resminya, Rabu (8/4/2026).
Tidak hanya maskapai nasional, menurutnya, maskapai asal Arab Saudi, Saudia Airline, juga telah menyampaikan kepada pemerintah Indonesia terkait kenaikan biaya per jamaah akibat lonjakan fuel.




