REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tokoh kafir Quraisy menjalin persekongkolan dan konspirasi dengan orang-orang Yahudi serta munafik. Tujuannya untuk menyerang Nabi Muhammad SAW atau membalas dendam atas kekalahan pasukan Quraisy oleh kaum Muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit di Perang Badar.
Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Sirah Nabawiyah mengisahkan, Abu Sofyan yang masih menjadi tokoh kafir Quraisy berpikir untuk melakukan suatu tindakan yang sedikit menyerempet bahaya, dengan maksud untuk menjaga kedudukan kaumnya dan menunjukkan kekuatan yang mereka miliki. Hal itu ia lakukan karena beberapa bulan sebelumnya pasukan Muslim yang jumlahnya lebih sedikit mengalahkan pasukan Quraisy yang jauh lebih banyak jumlahnya.
Dia sendiri sudah bernadzar untuk tidak membasahi rambutnya dengan air sekalipun junub, hingga dia dapat menyerang Nabi Muhammad SAW. Maka bersama dua ratus orang dia pergi untuk melaksanakan sumpahnya itu, hingga dia tiba di suatu jalan terusan di sebuah gunung yang bernama Naib. Jaraknya dari Madinah sekitar 12 mil (19 km).
Namun Abu Sofyan tidak berani masuk ke Madinah secara terang-terangan. Maka layaknya seorang perampok, dia mengendap-ngendap masuk Madinah pada malam hari yang gelap dan mendatangi rumah Huyai bin Akhtab. Dia meminta izin untuk masuk rumah, namun Huyai menolaknya karena dia takut. Untuk diketahui, Huyai bin Akhtab adalah pemimpin terkemuka Bani Nadhir, salah satu suku Yahudi di Madinah yang sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW pada awal Islam.




