REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Berita-berita media AS dan pernyataan resmi terus mengungkap detail dari apa yang digambarkan sebagai salah satu operasi penyelamatan paling berani dan rumit dalam sejarah operasi khusus AS.
Operasi diklaim berhasil menyelamatkan seorang perwira sistem persenjataan AS dari jantung wilayah Iran, dua hari setelah insiden jatuhnya pesawat tempur model "F-15” tersebut.
Dilansir Aljazeera, Senin (6/4/2026), pilot tersebut adalah anggota kedua dari awak pesawat yang diumumkan Iran telah ditembak jatuh oleh pertahanan udaranya, sementara Washington mengumumkan penyelamatan anggota pertama pada Jumat lalu, pada hari yang sama ketika pesawat tersebut ditembak jatuh.
Perlombaan melawan waktu
Situs "Axios" mengutip pejabat AS bahwa pasukan khusus (komando) berhasil menyelamatkan perwira kedua dari awak pesawat tempur yang ditembak jatuh oleh Teheran di atas wilayah barat daya negara tersebut.
Menurut sumber-sumber, perwira tersebut—yang berpangkat kolonel—mengalami luka-luka saat melompat dengan parasut, namun dia berhasil bertahan selama satu jam dan lolos dari pengejara unit pasukan Garda Revolusi Iran yang berlomba dengan waktu untuk menangkapnya, dengan bersembunyi di daerah pegunungan yang terjal selama lebih dari 24 jam.
Menurut laporan media Amerika, perwira tersebut mengandalkan perangkat komunikasi aman dan terenkripsi tinggi untuk berkoordinasi dengan tim komando dari lokasinya di pegunungan Iran.
Sumber-sumber melaporkan awak pesawat melakukan kontak segera melalui sistem darurat canggih setelah melompat dengan parasut, yang memungkinkan Badan Intelijen Pusat CIA dan Pentagon untuk menentukan lokasi mereka dengan tepat meskipun ada upaya penyamaran dan pengejaran terus-menerus Garda Revolusi.
Lihat postingan ini di Instagram




