REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Dalam perang, doktrin-doktrin tempur diuji di lapangan, dan efektivitasnya diukur di bawah tekanan kenyataan.
Dari situ muncul pelajaran-pelajaran yang membentuk kembali pemikiran strategis, serta mendorong angkatan bersenjata untuk meninjau kembali taktik tempur dan struktur militernya dalam menghadapi ancaman.
Iran telah terlibat dalam perang sengit dengan Irak sejak 1980 hingga 1988 dan berakhir dengan perjanjian gencatan senjata tanpa salah satu pihak berhasil mengalahkan yang lain.
Tentara Irak runtuh dalam waktu kurang tujuh pekan pada 2003 setelah invasi yang dipimpin oleh pasukan koalisi Amerika-Inggris.
Hal ini mendorong para pemimpin militer Iran untuk mempelajari jalannya perang tersebut guna mengambil pelajaran untuk masa depan, terutama jika mereka terlibat dalam perang melawan Amerika Serikat.
Berjudul "Mengapa Perlawanan Irak terhadap Invasi Sekutu Sangat Lemah?", buku yang diterbitkan oleh Rand Corporation pada 2007 menyoroti masa-masa awal koalisi.
Mengenai buku tersebut, Stephen Simon, mantan Direktur Urusan Timur Tengah dan Afrika Utara di Dewan Keamanan Nasional AS, mengatakan, "Rekan saya sebelumnya di Rand Corporation, Stephen T Hosmer, ditugaskan oleh Angkatan Udara untuk menganalisis penyebab runtuhnya pasukan militer Irak secara mendadak.
Dia menulis bukunya yang sangat bergantung pada wawancara dengan tawanan perang serta pejabat rezim Irak sebelumnya, dan hingga kini tetap menjadi analisis terkemuka mengenai topik tersebut."




