Rabu 01 Apr 2026 08:49 WIB

Pembangkangan NATO terhadap AS dan Diplomasi 'Reward' dari Teheran

Teheran merangkul negara-negara NATO yang berbeda sikap dengan Washington

Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026.
Foto: EPA/Stringer
Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON — Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran kini memicu keretakan di internal NATO. Sejumlah sekutu utama Washington di Eropa mulai terang-terangan membangkang dengan menolak izin lintasan udara, pangkalan, hingga pengiriman sistem pertahanan udara, di tengah ketidakpastian komitmen AS terhadap klausul pertahanan bersama NATO.

Middle East Eye menulis, Spanyol telah resmi menutup ruang udaranya bagi pesawat tempur AS yang terlibat dalam serangan ke Iran. Langkah serupa diambil Italia; surat kabar Corriere della Sera melaporkan bahwa Roma menolak izin mendarat bagi pesawat militer AS yang hendak menuju Timur Tengah di pangkalan Sisilia.

Baca Juga

Polandia, yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling setia AS di Eropa Timur, bahkan secara terbuka menolak permintaan informal pemerintahan Trump untuk merelokasi sistem pertahanan udara Patriot mereka ke Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump meluapkan kekesalannya melalui unggahan di media sosial X. Ia mengecam Prancis yang melarang wilayah udaranya digunakan untuk pengiriman peralatan militer ke Israel. Trump juga mengkritik Inggris yang enggan bergabung dalam perang.

"AS akan mengingat ini!!!" tulis Trump dengan nada mengancam.

Ketegangan ini diperparah oleh pernyataan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, yang menolak berkomitmen pada Pasal 5 NATO—prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua. Hegseth justru menyatakan bahwa AS telah menyerang Iran "atas nama dunia bebas", namun justru mendapat hambatan dari para sekutu.

photo
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (tengah) tiba untuk pertemuan meja bundar selama KTT NATO yang luar biasa di markas besar Aliansi di Brussels, Belgia, 24 Maret 2022. Para pemimpin NATO akan membahas konsekuensi dari invasi Presiden Rusia Putin ke Ukraina, membahas peran China dalam krisis ini, dan memutuskan langkah selanjutnya untuk memperkuat pencegahan dan pertahanan NATO. - (EPA-EFE/OLIVIER HOSLET)

Dilema Selat Hormuz

Di balik penolakan Eropa, terdapat kekhawatiran nyata akan stabilitas energi. Blokade Iran di Selat Hormuz telah melambungkan harga minyak dan gas di Eropa, yang sebelumnya sudah terpukul akibat pengalihan sumber energi dari Rusia pasca-invasi Ukraina.

Iran kini mencoba membangun sistem alternatif di jalur pelayaran vital tersebut, dengan memberikan prioritas kepada kapal-kapal yang tidak berafiliasi dengan Barat atau yang bertransaksi menggunakan mata uang yuan China, bukan dolar AS.

Menanggapi hal ini, Trump justru menunjukkan sikap lepas tangan yang mengejutkan. "Ambil saja sendiri!" tulis Trump merujuk pada kendali Selat Hormuz. "Kalian harus belajar bertarung untuk diri sendiri. AS tidak akan ada lagi di sana untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami. Pergi dan ambil minyak kalian sendiri!"

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement