Selasa 31 Mar 2026 12:07 WIB

Kemenhaj Siapkan Mitigasi Haji di Tengah Konflik Timur Tengah

Kemenhaj menyiapkan beberapa skenario mitigasi di Tanah Suci.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Jamaah calon haji dari berbagai negara berjalan usai menunaikan Shalat Maghrib di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (30/5/2025). Pemerintah Arab Saudi menetapkan Idul Adha jatuh pada hari Jumat (6/6), sedangkan Hari Arafah (Wukuf di Arafah) sebagai rangkaian puncak musim haji pada 5 Juni 2025 yang akan diikuti 1,83 juta muslim dari berbagai penjuru dunia termasuk dari Indonesia yang tahun ini memiliki kuota sebanyak 221.000 jamaah.
Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu
Jamaah calon haji dari berbagai negara berjalan usai menunaikan Shalat Maghrib di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (30/5/2025). Pemerintah Arab Saudi menetapkan Idul Adha jatuh pada hari Jumat (6/6), sedangkan Hari Arafah (Wukuf di Arafah) sebagai rangkaian puncak musim haji pada 5 Juni 2025 yang akan diikuti 1,83 juta muslim dari berbagai penjuru dunia termasuk dari Indonesia yang tahun ini memiliki kuota sebanyak 221.000 jamaah.

REPUBLIKA.CO.ID,MADINAH — Kementerian Haji dan Umrah RI mempercepat persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M dengan menitikberatkan pada aspek keselamatan jamaah di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah, sekaligus menghadirkan fleksibilitas layanan ibadah.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Puji Raharjo menegaskan, langkah mitigasi keamanan menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghadapi potensi eskalasi konflik di kawasan.

Baca Juga

”Keselamatan jamaah tetap menjadi prioritas utama bagi kami. Mengingat kondisi eskalasi di Timur Tengah, kami tengah menyiapkan beberapa skenario mitigasi yang komprehensif untuk memastikan jamaah dapat beribadah dengan aman dan tenang,” ujar Puji dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3/2026).

Selain aspek keamanan, pemerintah juga mematangkan skema layanan ibadah yang lebih fleksibel. Di antaranya penerapan Tanazul (pemulangan lebih awal atau penundaan) dan Murur (melintas di Muzdalifah) guna menjaga kelancaran mobilitas jamaah. Kemenhaj juga menyiapkan mekanisme pembayaran Dam (denda atau sembelihan) dengan prinsip kemudahan dan kebebasan bagi jamaah. Pembayaran Dam dapat dilakukan baik di Tanah Suci maupun di Tanah Air.

“Pemerintah memberikan kebebasan kepada jamaah sesuai keyakinan masing-masing. Kami hanya memfasilitasi dan memberikan kemudahan agar jamaah bisa melaksanakannya sesuai pilihan mereka,” ucap Puji.

photo
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (tengah) didampingi Sekjen Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Teguh Dwi Nugroho (kedua kiri), Irjen Kemenhaj Dendi Suryadi (kedua kanan), Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj Puji Raharjo (kanan), dan Dirjen Pelayanan Haji Kemenhaj Ian Heriyawan (kiri) menyampaikan keterangan saat Media Briefing Outlook Penyelenggaraan Haji 1447H/2026M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (8/1/2026). Menteri Haji dan Umrah menyatakan tahun ini ada penambahan dua embarkasi di Banten dan Jogja, pelunasan haji reguler mencapai 95,42 persen, proses pemeriksaan istithaah kesehatan lebih diperketat, dan kebutuhan bumbu dapur buat Haji sekitar 600 ton. - (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

 

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement