REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Selatan Lebanon kembali menjadi medan pertempuran yang paling berdarah bagi pasukan pendudukan Israel (IDF). Sepanjang Senin (30/3/2026), kota Ainata dan poros Aitaroun-Ainata menjadi saksi bisu salah satu operasi perlawanan paling intensif di mana pasukan infanteri dan kavaleri Israel terjebak dalam rangkaian penyergapan maut yang dipersiapkan dengan matang oleh pejuang Hizbullah, tulis media berbasis di Beirut, Al Mayadeen.
Dari lokasi kejadian, koresponden melaporkan bahwa Ainata kini muncul sebagai titik pusat perlawanan strategis. Pasukan Israel yang mencoba merangsek maju disambut dengan hujan rudal pemandu dan ledakan perangkat improvisasi (IED) yang menyebabkan kepanikan dan kerugian besar di pihak agresor.
Berdasarkan kesaksian lapangan, pasukan Hizbullah berhasil memancing unit-unit Israel ke dalam zona penyergapan yang telah dirancang sedemikian rupa. Di poros Aitaroun-Ainata, tank-tank Israel yang sedang melaju dihantam rudal pemandu dan ranjau darat secara simultan. Kontak tembak terjadi dalam jarak yang sangat dekat—bahkan saling berhadapan muka—membuat keunggulan teknologi militer Israel menjadi tumpul di medan yang terjal.
Insiden paling dramatis terjadi ketika satu unit infanteri Israel mencoba berlindung di sebuah bangunan residensial di Ainata. Pejuang perlawanan merespons dengan meluncurkan rudal presisi yang menghantam gedung tersebut, menyebabkan seluruh anggota unit di dalamnya tewas atau terluka.
"Pasukan pendudukan tidak akan pernah melupakan hari yang sangat sulit di Ainata ini. Mereka yang berani menginjakkan kaki di tanah ini telah diajarkan pelajaran yang sangat keras," lapor koresponden di Lebanon Selatan, mengutip para saksi mata.




