Senin 30 Mar 2026 18:11 WIB

Apa yang akan Terjadi Jika Selat Bab Al-Mandab Diblokade Houthi Yaman?

Houthi tegaskan dukungannya untuk Iran.

Newly recruited university students step on a US flag on the ground during a protest against US-led strikes on Houthi positions, at Sana
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Newly recruited university students step on a US flag on the ground during a protest against US-led strikes on Houthi positions, at Sana

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA— Kekhawatiran semakin meningkat bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran akan bergeser ke arah baru berpusat di Selat Bab al-Mandab yang dilalui sekitar 10 persen dari perdagangan minyak dunia.

Dalam konteks ini, Ibrahim Farhat, profesor konflik internasional di Institut Studi Pascasarjana Doha, menunjukkan pengumuman kemungkinan penutupan Selat oleh kelompok “Ansarullah” (Houthi) saja sudah cukup untuk menimbulkan kepanikan di pasar.

Baca Juga

Jika hal itu benar-benar terjadi, kapal tanker minyak akan terpaksa berlayar mengelilingi Afrika Selatan, yang akan memperpanjang waktu pengiriman dari 10 menjadi 15 hari, menaikkan harga minyak, dan memperparah ketidakpastian ekonomi, menurut pernyataan Farhat kepada Aljazeera, dikutip Senin (30/3/2026).

Farhat menjelaskan Selat Bab el-Mandab tidak hanya digunakan untuk pengiriman minyak, tetapi juga menjadi jalur bagi sebagian besar perdagangan barang, yang membuat pengendaliannya sulit dan memberikan Iran pengaruh horizontal atas perdagangan global.

Selat Bab al-Mandab adalah jalur air selebar sekitar 30 kilometer, yang memiliki pentingnya strategis, ekonomi, dan militer, menjadikannya arena konflik regional dan internasional.

Selat ini juga merupakan gerbang selatan Laut Merah, yang menghubungkannya dengan Teluk Aden, Laut Arab, dan Samudra Hindia, serta menjadi bagian penting dari rute perdagangan laut terpendek dan termurah yang menghubungkan Asia Timur dengan Eropa.

Farhat menyatakan keyakinannya bahwa dukungan Iran kepada Houthi melalui ancaman terhadap Selat Hormuz mencerminkan strategi tekanan periferal yang memungkinkan Teheran memengaruhi pasar energi global tanpa perlu intervensi langsung, yang pada gilirannya memperparah dampak ekonomi perang.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement