REPUBLIKA.CO.ID, DOHA — Eskalasi militer antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel kian memanas. Selain membalas dengan serangan rudal langsung ke wilayah Israel, Teheran juga memperluas zona tempurnya dengan menyasar aset-aset militer strategis AS di negara-negara Teluk.
Al Jazeera yang mengutip laporan dari The Wall Street Journal (WSJ) mengungkapkan, serangan drone dan rudal Iran pada Jumat (27/3/2026) lalu berhasil menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi. Pangkalan ini merupakan objek vital yang digunakan bersama oleh angkatan udara Saudi dan militer AS.
Al Jazeera melaporkan, kerugian paling signifikan bagi Pentagon dalam serangan ini adalah hancurnya pesawat E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System). Pesawat ini bukan sekadar alat angkut, melainkan "pusat kendali pertempuran udara" yang mampu melacak pergerakan musuh dari jarak ratusan kilometer.
Pensiunan Kolonel Angkatan Udara AS, John Venable, menyebut penghancuran AWACS ini sebagai pukulan telak. "Ini melumpuhkan kemampuan AS untuk melihat apa yang terjadi di Teluk dan merusak kesadaran situasional mereka," ujar dia. Tanpa AWACS, koordinasi jet tempur, pengisian bahan bakar di udara, hingga deteksi dini serangan drone musuh menjadi sangat terhambat.
Selain AWACS, serangan tersebut juga menghancurkan satu pesawat tanker KC-135 dan merusak tiga lainnya. Tanker ini disebut sebagai "nyawa" bagi jet tempur AS agar tetap bisa mengudara dalam durasi lama. Dengan hancurnya infrastruktur pendukung ini, kampanye udara AS di Iran diprediksi akan mengalami hambatan operasional yang serius.




