REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak awal kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah, hubungan dengan komunitas Yahudi tidak berjalan harmonis. Perbedaan keyakinan, fanatisme rasial, kepentingan politik dan ekonomi menjadi faktor utama yang melatarbelakangi munculnya kebencian dan permusuhan terhadap Islam.
Dakwah yang dibawa Rasulullah SAW, yang menyerukan persatuan, keadilan, dan larangan praktik riba, dipandang sebagai ancaman langsung terhadap pengaruh serta dominasi yang selama ini dimiliki orang-orang Yahudi di Yatsrib.
Di Madinah, Yahudi mempunyai tiga kabilah yang terkenal, pertama Bani Qainuqa, dulunya mereka adalah sekutu Khazraj dan perkampungan mereka berada di dalam Madinah. Kedua, Bani Nadhir. Ketiga, Bani Quraizhah dulunya mereka merupakan sekutu Aus bersama dengan Bani Nadhir, yang menetap di pinggir Madinah. Tiga kabilah inilah yang membangkitkan peperangan antara Aus dan Khazraj sejak lama. Mereka juga mempunyai andil dalam Perang Bu'ats, karena masing-masing berkomplot dengan sekutunya.
Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah menuliskan, tidak ada yang bisa diharapkan Rasulullah SAW dari orang-orang Yahudi mengingat mereka memandang Islam dengan mata kebencian dan kedengkian.
Nabi Muhammad SAW juga tidak berasal dari ras Yahudi, sehingga gejolak fanatisme rasial yang telah menguasai pikiran dan hati orang-orang Yahudi menjadi terang.
Sementara itu, dakwah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW senantiasa mampu menyatukan hati manusia, memadamkan api kebencian dan permusuhan, mengajak kepada penepatan janji dan memegang amanat dalam keadaaan bagaimana pun, membatasi pada makan yang halal dan pencarian harta yang baik.
Dengan kata lain, berarti semua kabilah Arab di Yastrib tentu akan bersatu. Jika begitu keadaannya, cakar Yahudi tentu akan tumpul dan aktivitas bisnis mereka siap mengalami kegagalan.




