REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seusai Ramadhan, umat Islam dianjurkan menjalankan puasa sunnah pada Syawal. Namun bolehkah menggabungkan niat mengganti puasa Ramadhan bersama dengan Syawal? Apakah sah puasanya?
Dikutip dari buku Fikih Bulan Syawal oleh Muhammad Abduh Tuasikal, dalam hal ini dibedakan antara sahnya ibadah dan konsekuensi pahala.
Pertama, dari sisi sahnya ibadah, siapa yang berpuasa dengan dua niatan, maka puasanya sah. Dia mendapatkan pahala pokok puasa.
Kedua, dari sisi pahala, dia tidak mendapatkan pahala puasa Syawal (setahun penuh berpuasa) karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaratkan berpuasa Ramadhan dulu lalu berpuasa Syawal. Dalam Madzhab Syafii, menggabungan dua niat ada beberapa bentuk sebagai berikut.
Bentuk pertama, menggabungkan dua niat, yakni niat qadha dan niat puasa enam hari Syawal, maka pahala qadha dan pahala sunnah enam hari Syawal tetap dapat. Demikian ada kesamaan antara pendapat Ar-Ramli dan Al-Haitami.
Bentuk kedua, hanya berniat qadha, sedangkan puasa Syawal diniatkan untuk ditunda setelah qadha, maka pahala yang diperoleh hanya qadha, sedangkan pahala puasa enam hari Syawal tidak didapatkan. Dalam hal ini, Al-Haitami dan Ar-Ramli bersepakat.




